Selasa, 17 Mei 2022

kau bagaikan anak burung yang di besarkan induk ayam

 di dalam memahami jaran tasawuf kita ini bagaikan anak burung yang di besarkan induk ayam.

so, baca selengkapnya, kami telah menulis ini pada fage kami di situ lain.

klik link berikut:

baca selengkapnya (di kompasiana)

memahami makna cinta.

sob  pahamilah makna cinta yang sebenarnya, sebab yang layak di cintai hanyalah allah semata, jika kita tidak paham maka kita secata tidak sadar akan tetap menujukan cinta kitap kepada mahluk padahal itu masi berupa kestirikan. nauzubillah.


kami telah menulisnya pada halaman kami di situs lain. so klik link berukut:

Makna wujud.

 


Makna wujud.

wujud adalah perkara yang tidak sembarangan untuk kita anggap dan kita sebutkan, marilah kita ketahui dahulu makna wujud yang sebenarnya, supaya kita tidak salah dalam mengartikanya dan memahaminya. sebab salah salah kita menjadi terjerumus dalam kesyirikan, keseatan dan kekafiran.

kami telah menjelaskanya pada halaman lain. so klik link berikut.

Makna wujud. (di halaman kompasiana)

Kamis, 12 Mei 2022

Daftar isi Terjemahan kitab Minhajul abidin.


Daftar isi

 Terjemahan kitab Minhajul abidin:

AQABAH 7. BERSYUKUR KEPADA ALLAH

AQABAH 7. BERSYUKUR KEPADA ALLAH

Terjemahan kitab minhahul ambidin (imam gazhali)

 

AQABAH 6. TAHAPAN CELAAN


 AQABAH 6. TAHAPAN CELAAN

Terjemahan kitab minhahul ambidin (imam gazhali)

 

Selanjutnya, setelah ibadah kita lurus, wajib membedakan mana yang lebih 

baik dan mana kurang baik, serta memelihara segala sesuatu yang sekiranya dapat 

merusak dan merugikan ibadah kita. 

Wajibnya itu dikarenakan dua sebab: 

Pertama: Sebab, jika kita ikhlas dan senantiasa mengingat karunia Allah, akan 

mendatangkan manfaat yang sangat besar, yakni segala amalan kita bakal diterima 

di sisi-Nya, serta mendapatkan pahala dari amalan itu. 

Jika tidak demikian, maka segala amalan kita tidak akan diterima. dan hilanglah 

segala pahala. 

Yang menjadi dasar adalah sabda Rasulullah SAW.: 

Sesungguhnya Allah telah berfirman: 

Sesungguhnya Allah SWT. Berfirman, "Aku ini tidak membutuhkan sertaan dari yang lain; siapa saja yang melakukan suatu 

perbuatan, dengan menyertakan yang lain selain Aku, maka bagian-Ku 

untuk yang lain itu. Karena, Aku tidak akan menerima (perbuatan 

seseorang) selain yang ikhlas hanya untuk-Ku". 

322 

Serta ada yang mengatakan, "Pada hari kiamat kelak, Allah akan menjawab 

setiap tagihan hamba-Nya yang telah beramal: 

Apakah tidak diperluas bagimu (kedudukan) di dalam majlis, 

apakah kamu tidak dijadikan sebagai pemimpin di dunia. apakah tidak 

ada keringanan harga untukmu; (dan) apakah kamu tidak mendapat 

penghormatan? 

Jika itu yang dimaksudkan orang-orang yang telah beramal, maka cukuplah itu 

sebagai pahalanya. 

Itulah bahaya dan madharatnya yang ditimbulkan akibat beribadah tanpa 

dilandasi ikhlas. 

Sedangkan dua noda yang dimaksudkan adalah: 

Menurut penyusun, riya mempunyai dua nuda dan musibah. Pertama: noda 

rahasia, yaitu didakwa oleh Allah di hadapan para malaikat. sehingga terbongkarlah 

semua rahasiany




Seperti diriwayatkan, bahwa malaikat naik ke langit membawa segala amal 

manusia dengan riang gembira. 

Akan tetapi Allah berfirman: 

"Lemparkan amalnya ke neraka Sijjin, karena ia beramal tidak 

dengan lillaahi ta'ala. " 

Noda kedua: cemar namanya di hadapan seluruh makhluk, pada hari kiamat 

kelak. 

Rasulullah SAW. bersabda: 

Orang yang bersifat riya, kelak pada hari kiamat dipanggil 

dengan empat julukan: 

Kemarilab hai kafir, silakan kemari hai penjahat, kesini hai 

pengkhianat, dan kesinilah kau hai orang yang merugi. Amalmu adalah 

sesat, pahalamu batal, tiada bagian untukmu pada saat ini. 

Sekarang, mintalah pahala kepada orang yang membuatmu riya! 

Riwayat lain mengatakan, bahwa orang yang demikian, kelak pada hari kiamat 

akan diteriaki dengan keras, sehingga semua makhluk mendengarnya, "Mana orang 

yang suka menyembah manusia. Bangunlah kalian semua, ambillah pahala dari 

orang yang kau sembah. Sebab, Aku tidak akan menerima amal yang dicampuri 

dengan sesuatu." 

Sedangkan dua musibah: pertama; tidak mendapatkan tempat di surga. Yakni 

berlaku bagi orang-orang yang diriwayatkan oleh Rasulullah SAW. bersabda: 

Sesungguhnya surga itu berbicara. Katanya, "Aku ini haram bagi 

orang-orang kikir dan riya. " 

Hadits di atas mengandung dua makna: 

Pertama, yang dimaksud kikir di sini yaitu kikir ucapan. Yakni tidak mau 

mengucapkan sebaik-baik ucapan: La ilaha Illallah Muhammadur Rasulullah. 

Sedangkan maksud riya di sini adalah riya yang paling buruk, yakni riya munafik: 

orang yang riya. imannya dan riya tauhidnya. Dalam hal ini, terkandung harapan 

bahwa orang Mu'min tidaklah demikian. 

Makna kedua. jika mereka tidak berhenti dari sifat riya dan kikir. serta tidak 

menjaga diri. Maka. akan mendapatkan dua bahaya: 

1. Menanggung akibat sifat itu. sehingga jatuh kufur dan musnahlah surga 

baginya. 

2. Sifat kikir dan riya, lambat laun menghilangkan iman, sehingga yang 




mengalaminya akan kekal di dalam neraka. 

Musibah kedua dari sifat nya adalah masuk neraka. Dari Abu Hurairah, bahwa 

"Rasulullah SAW. bersabda: 

Yang pertama kali diseru pada hari kiamat adalah orang yang 

hafal al-Quran, orang yang mati syabid, dan orang kaya. 

Kepada orang-orang yang hafal al-Qur'an Allah berfirman: 

"Apakah Aku tidak mengajarimu membaca al-Qur'an yang Aku 

turunkan kepada Rasul-Ku?" 

Jawab mereka, "Tentu saja, ya Tuhanku. " 

Firman Allah selanjutnya, "Untuk apa ilmu yang engkau miliki 

itu?" 

Jawab mereka, "Saya amalkan, dan saya kaji siang-malam. " 

Firman Allah selanjutnya, "Engkau berdusta!" 

Juga, para malaikat berkata, "Kamu dusta!" 

Firman Allah, "Sebenarnya engkau ingin mendapatkan pujian dari 

orang banyak, bahwa engkau seorang Qari'. Maka pahalamu, cukuplah 

pujian orang-orang itu, itu bagianmu! " 

Sekarang giliran orang kaya dihadapkan kepada Allah: 

Firman Allah, "Apakah Aku tidak memberikan kekayaan 

kepadamu, bingga kau tidak membutuhkan siapa pun?" 

Jawabnya, "Tentu saja, ya Tuhan. Hamba telah mendapatkan 

kekayaan dari-Mu, " 

Selanjutnya Allah berfirman, "Kau gunakan untuk apa kekayaan 

yang Aku berikan itu?" 

Ia menjawab, "Saya pergunakan untuk bersilaturahmi dan 

bersedekah." 

Maka Allah berfirman, "Kau berdusta!" 

Firman Allah selanjutnya, "Sesungguhnya engkau ingin 

mendapatkan pujian sebagai seorang yang murah tangan Nah pujian 

itulah bagian untukmu. " 

Kini tiba giliran orang yang mati syahid di hadapkan kepada 

Tuhan' 

Allah berfirman, "Apa yang engkau lakukan selama di dunia?" 

Jawabnya, "Saya diperintahkan turut dalam perang sabil. 

Dan perintah itu saya turuti, hingga saya mati dalam 

peperangan itu." 

Firman Allah, "Dusta kamu!" 

Juga, para malaikat berkata, "Pendusta kamu!" 




Kemudian Allah berfirman, "Sebenarnya engkau hanya ingin 

dipuji sebagai seorang pemberani (pahlawan). Dan pujian itulah 

bagianmu!" 

Kemudian Rasulullah menepuk lututku sambil bersabda: 

Ya Abu Huratrah, mereka itulah yang pertama-tama merasakan 

panasnya api neraka. 

Berkata pula Sayyidina Abdullah bin Abbas, bahwasanya Rasulullah SAW. 

bersabda: 

Sesungguhnya neraka dan ahli neraka (penghuninya) menjeritjerit dalam menghadapi ahli-ahli riya. 

Sayyidina Abdullah bin Abbas bertanya, "Bagaimana jeritan neraka itu, ya 

Rasulullah?" 

Sabda Rasulullah, "Dari panasnya api yang dipakai untuk menyiksa para ahli 

riya." 

Para pembaca yang budiman, dalam masalah noda atau cela tersebut 

mengandung. pelajaran bagi orang-orang yang tajam mata hatinya. 

Ikhlas, menurut para ulama ada dua macam: 

1. Ikhlas dalam beramal. 

2. Ikhlas dalam memohon pahala Allah. 

Ikhlas dalam beramal adalah niat taqarrub kepada Allah SWT., dan niat 

mengagungkan perintah-Nya, serta niat melaksanakan seruan Tuhan. Yang 

mendorong semua itu adalah ijtihad dengan bersungguh-sungguh. 

Lawan dari ikhlas adalah munafik, yaitu taqarrub selain kepada Allah. 

Berkata guru kamu rabimabullab, "Nifaq (munafik) adalah niat yang salah. 

Yakni niatnya orang munafik kepada Allah." 

Sedangkan ikhlas dalam memohon pahala adalah bermaksud mencari 

kemanfaatan akhirat dengan amal baik. 

Guru kami mengatakan, "Ikhlas dalam memohon pahala, maksudnya dengan 

kebaikan seseorang menginginkan pahala akhirat. Dan ini tidak ditolak oleh Allah 

SWT. Tetapi, jika sekiranya tidak dapat mendapatkan kebaikan, kemudian dengan 

amalnya mengharap mendapatkan manfaat akhirat, maka syarat-syaratnya 

sebagaimana telah penyusun terangkan." 

Orang-orang Hawariyyun (murid-murid Nabi Isa) pernah bertanya kepada Nab




Isa as., "Bagaimana yang dimaksud dengan amal-amal yang ikhlas?" 

Jawab Nabi Isa as., "Yaitu yang disertai lillahi ta'ala, tanpa menginginkan pujian 

orang lain." 

Dalam hal ini, beliau memberikan didikan kepada anakdidiknya agar 

meninggalkan sifat riya. Mengapa Nabi Isa mengkhususkan untuk meninggalkan 

riya?! Sebab, riya merupakan perusak yang paling kuat, merusak ikhlasnya 

beribadah!! 

Imam Junaid berkata, "Ikhlas itu membersihkan segala amalan dari sesuatu 

yang bisa mengeruhkan amal. " 

Berkata pula Imam Fudail bin Iyadh, "Ikhlas itu membiasakan diri untuk bermuraqqabah kepada Allah SWT., serta melupakan segala kepentingan pribadinya." 

Dan menurut Imam Ghazali, itulah keterangan yang paling sempurna. 

Sehubungan dengan masalah ikhlas, Rasulullah SAW. bersabda: 

Ikhlas adalah tekad dalam hati semata-mata hanya kepada 

Allah. Kemudian istiqamah sebagaimana telah diperintahkan. 

Tidak menyembah nafsu dan tidak menyembah diri sendiri merupakan isyarat, 

bahwa selain kepada Allah harus dipisahkan dari jalan pikiran. Begitulah ikhlas yang 

sebenarnya. 

Sedangkan lawan ikhlas adalah riya, yaitu mengingmkan manfaat dunia dengan 

jalan menjalankan ibadah .. 

Dan riya itu ada dua macam: 

1. Riya khusus. 

2. Riya campuran. 

Riya khusus hanya menginginkan keuntungan dunia, tidak menginginkan 

keuntungan akhirat. 

Sedangkan riya akhirat menginginkan keduanya. Misalnya, seseorang 

melakukan shalat, di samping menginginkan pahala akhirat, ia juga mengharapkan 

pujian orang lain. 

Sesungguhnya, ikhlas dalam beramal adalah mengusahakan sepenuhnya bahwa 

amal itu untuk beribadah. Adapun ikhlas dalam memohon pahala adalah 

mengharapkan amalannya itu dikabulkan serta menginginkan pahala yang banyak. 

Adapun yang membatalkan pahala amal adalah nifaq. Karena amalan yang




disertai nifaq menghilangkan sifat qurbah. 

Dengan demikian, riya khusus itu tidak pernah ada pada orang-orang yang 

ma'rifat. Hal itu menurut pendapat sebagian ulama. Meskipun, kadang-kadang 

dapat membatalkan sebagian pahala. Dan riya campuran dapat seperempat bagian 

pahala. 

Menurut guru kami, riya khusus tidak akan terjadi pada orang ma 'ritat yang 

sadar akan akhirat. Dan terjadinya hanya ia dalam keadaan lengah. 

Kemudian, nadzar yang disertai nya dapat juga sebagai penyebab hilangnya 

sebagian pahala dan menghilangkan diterimanya amal. 

Penjelasan mengenai masalah tersebut memang memerlukan keterangan dan 

bahasan panjang lebar. Dan itu telah penyusun terangkan dalam kitab Ihya 

'Ulumuddin. 

Perlu diketahui, menurut sebagian ulama, amal itu ada tiga bagian: 

1. Bagian yang terdapat ikhlas secara bersamaan. Yakni, ikhlas beribadah 

kepada Allah dan ikhlas dalam memohon pahala akhirat, yaitu ibadah 

lahir. 

2. Bagian yang tidak terdapat sama sckali keduanya, yakni ibadah batin. 

Sebab, dalam hal ini hanya Allah yang mengetahui. Sehingga tidak 

terdapat sifat riya. 

3. Bagian yang hanya mengharapkan sebagian pahala akhirat. 

Yakni, mengikhlaskan amalan yang mubah, makan misalnya. Sehingga, jika 

menginginkan pahala dari amalan yang mubah ini adalah dengan jalan 

mengikhlaskan (berniat) bahwa makan hanyalah sebagai bekal guna berkhidmat 

kepada Allah. Sehingga, makannya itu akan mendapatkan pahala. 

Guru kami (Imam Ghazali) mengatakan, "Sesungguhnya setiap amal yang 

ihtimal dapat ditujukan kepada selain Allah dari ibadah-ibadah asli, yang di sana 

ikhlas amalannya. Jadi, ibarat batin sebagian besar terjadi dari ikhlasul 'amal. " 

Adapun ikhlas dalam memohon pahala, menurut guru Karamiyah tidak terjadi 

dalam ibadah batin ini. Sebab, dalam hal ini tidak bisa dicampuri riya, karena ibadah 

batin hanya Allah yang mengetahui. Sehingga, dalam hal ini mustahil ada sifat riya, 

sedangkan orang lain tidak bakal melihat dan mengetahuinya. Dengan demikian, 

dalam hal ini tidak perlu mengikhlaskan dalam memohon pahala. 

Dan guru kami rahimahullah sering mengatakan, "Apabila hamba yang bcr-




taqarrub kepada Allah, dan dengan adanya ibadah batin ia mengharapkan manfaat 

dunia, maka itu pun termasuk riya, sekalipun orang itu tidak bisa melihatnya. 

Misalnya, "Aku akan berbuat jujur, setia, dan ikhlas. Mudah-mudahan aku bisa 

hidup di dunia dan dikasihani orang lain sehingga mcndapatkan kedudukan tinggi." 

Nah, yang demikian itu termasuk perbuatan riya! Oleh karenanya, bukan hal 

yang aneh jika pada sebagian besar ibadah batin terjadi dua ikhlas itu. Demikian 

pula dalam ibadah sunat, harus ada dua ikhlas tersebut pada awal mengerjakannya. 

Sedangkan jenis amalan mubah yang diniatkan sebagai bekal, misalnya: 

- Aku makan sebagai bekal untuk beribadah. 

- Aku tidur agar badan sehat sebagai bekal beribadah. 

Dalam hal itu yang terjadi adalah ikhlas mengharapkan pahala Allah SWT. 

Sebab, seperti makan, minum, tidur dan sebagainya tidak bisa dijadikan- qurbah, 

melainkan sebagai bekal guna beribadah. 

Perlu pula diketahui bahwa ikhlas dalam beramal harus bersamaan dengan saat 

mengerjakannya. Dengan demikian, sejak awal hingga berakhirnya harus ikhlas. 

Akan tetapi, ikhlas dalam memohon pahala dari Allah bisa diniatkan pada akhir 

atau setelah selesai beramal. 

Sebagian ulama berpendapat, dalam memohon pahala Allah harus dilakukan 

(diniatkan) setelah selesainya beramal. Dan nilainya bergantung pada akhir 

pekerjaan itu. Jika ditutup dengan ikhlas, berarti termasuk amalan yang ikhlas. Dan 

jika diakhiri dengan riya, maka termasuk amalan riya. 

Tetapi menurut Ulama karamiyah lainnya, selama orang belum mendapatkan 

kemanfaatan dari sifat riya yang dimaksudkan, maka masih bisa dibelokkan pada 

ikhlas. 

Misalnya, seseorang mengerjakan shalat dengan maksud ingin mendapatkan 

pujian orang lain. Tetapi sebelum orang memujinya, la membelokkan atau 

mengubah niatnya menjadi niat yang ikhlas. Akan tetapi, jika telah mendapatkan 

manfaat dan niat pertamanya, yakni mendapat pujian orang, berarti amalannya siasia. Dan bagiannya hanyalah pujian itu. 

Sebagian ulama lain berpendapat, bahwa ibadah wajib dapat menegakkan sifat 

ikhlas hingga maut menjemputnya. misalnyaa seseorang merasa ketika mengerjakan 

shalat tidak disertai ikhlas, kemudian ia memohon, "Ya Allah, shalatku yang kemarin 

tidak aku kerjakan dengan ikhlas, oleh sebab aku aku bertaubat, dan shalatku hari ini 




hanyalah karena-Mu." 

Namun tidak demikian halnya dengan ibadah sunat. 

Apa perbedaan ibadah wajib dengan ibadah sunat? Allahlah yang 

memerintahkan menjalankan ibadah wajib. Sedangkan Ibadah sunat adalah 

keinginan si hamba. Sehingga, jika ia tidak ikhlas mengerjakannya, maka Allah akan 

menagih haknya kepada orang yang memaksakan diri mengerjakan ibadah sunat itu. 

Dalam hal ini, ada manfaatnya, yakni ibadah yang terlanjur dikerjakan dengan

sifat riya, bisa diperbaiki dengan memakai salah satu cara yang telah penyusun 

terangkan. 

Sesungguhnya, dalam hal ini para ulama saling berbeda pendapat. Ada yang 

berpendapat, bahwa dalam mengerjakan setiap ibadah, harus ikhlas. Ada pula yang 

berpendapat, bahwa Ikhlas hanya untuk sejumlah ibadah. Misalnya, ketika 

mengerjakan shalat, harus berniat lillahi ta'ala, sedang lainnya, seperti ruku, sujud 

dan lainnya, sudah terkurung dalam niat tadi. 

Selanjutnya, mengenai ibadah dan amalan yang mempunyaI rukun dan bersifat 

wajib, seperti shalat, wudhu', maka cukup hanya dengan satu ikhlas. Karena, 

semuanya saling berkait, tidak bisa dipisahkan. Sehingga jika salah satunya rusak, 

rusaklah semuanya, karena semua bagian merupakan satu kesatuan yang utuh. 

Bagaimana halnya dengan seseorang yang beribadah mengharapkan manfaat 

dunia kepada Allah, dan tidak sedikit pun mengharapkan pujian orang lain. Tetapi, 

semata-mata mengharapkan dari Allah. Hal itu justru perbuatan penuh riya!! 

Seorang ulama mengatakan, "Yang dianggap riya itu bergantung pada apa yang 

diinginkan, bukan bergantung kepada siapa ia memohon." 

Dengan demikian, beramal dengan mengharapkan manfaat dunia, meskipun 

memohonnya kepada Allah, itu termasuk riya. 

Allah 'Azza wa J alla berfirman: 

Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami 

tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki 

keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari 

keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat. 

(asy-Syura: 20). 

Riya berasal dari kata ru dan yah. Yang berarti, sebab-sebab perbuatan jahat. 

Dan kebanyakan perbuatan riya itu adalah ingin dilihat orang lain. 

Bagaimana seandainya yang dimaksud dengan manfaat dunia agar ta'affuf dan 




supaya tidak mengemis kepada orang lain serta bermaksud mencari bekal guna 

beribadah kepada Allah. 

Harus diketahui, ta'affuf bukan berarti seseorang harus kaya atau besar 

pengaruh. Sebab, ta'affu f berada pada kana'ah (cukup dengan apa adanya), dan 

yakin akan jaminan Allah Ta'ala. 

Adapun bermaksud sebagai bekal ibadah, itu tidaklah termasuk riya. Karena, 

hal itu bertalian dengan urusan akhirat. Sebab, segala perbuatan dengan niat seperti 

itu akan menjadi baik dan termasuk amal akhirat. 

Mengharapkan kebaikan bukanlah riya. Demikian juga mengharapkan 

penghormatan orang lain dan dikasihi para imam dengan tujuan untuk membela 

dan memperkuat madzhab ahlul haq (Ahli Sunnah wal Jamaah), atau untuk 

membantah syubhat ahli bid'ah, atau bertujuan untuk menyebarkan ilmu. Mungkin 

juga, jika mempunyai pengaruh, bisa memerintahkan orang untuk beribadah. Sebab, 

tanpa pengaruh, ajakannya tidak akan digubris orang. 

Sudah barang tentu semua itu terlepas dari keinginan memuliakan dan atau

maksud duniawi. Sehingga, merupakan iradat yang baik dan tepat, tujuan lurus, 

dikarenakan niatnya baik, tidak sedikit pun ada niat riya, karena bertujuan untuk 

akhirat. 

Ada sebagian wali yang mempunyai kebiasaan membaca surat al-.Waqi'ah di 

kala sulit mendapat rezeki. Maka, guru kami memberikan penjelasan tentang hal itu, 

"Yang dimaksud oleh para wali adalah agar Allah memberikan kana'ah kepadanya. 

Yakni, mengharapkan sekadar rezeki untuk bekal beribadah serta untuk kekuatan 

dalam menuntut ilmu. "

Berarti, semua itu termasuk niat baik, bukan semata-mata untuk kesenangan 

dunia. 

Dalam menghadapi kesulitan rezeki, membaca surat Kana 'ah sudah warid 

dalam hadits-hadits riwayat para sahabat dari Rasulullah SAW. Hingga, Sayyid 

Abdullah bin Mas'ud' tidak meninggalkan kekayaan sedikit pun untuk anaknya. Ia 

mengatakan, “Aku telah meninggalkan (mewariskan) kepadanya surat Waqi’ah.”

Berdasar sunat Rasulullah itulah, maka membaca surat Waqi’ah menjadi suatu 

kebiasaan. 

Demikianlah sejarah hidup para ulama kita. Jika saja tidak ada uarid dalam 

hadits, niscaya mereka tidak mempedulikan kesusahan urusan dunia. Miskin atau 




kaya, bagi mereka tidaklah menpdl soal. Tetapi, dikarenakan ada warid dalam hadits 

maka mereka mengamalkannya. Sebab, mereka beranggapan: miskin adalah suatu 

keuntungan, bahkan kesengsaraan dianggapnya sebagai karunia yang besar dari 

Allah Ta 'ala. 

Dalam keadaan kaya, justru mereka merasa khawatir adanya istidraj dan 

berbagai musibah (padahal, kekayaan oleh kebanyakan orang dianggap sebagai 

suatu kenikmatan). Apalagi, mereka adalah orang-orang yang suka mengembara dan 

melanglang buana. Dan para Imam itu sering mengatakan bahwa lapar adalah modal 

mereka. 

Demikianlah menurut madzhab Ahli-TaSAWuf (termasuk Imam Ghazali), juga 

madzhab yang dianut para guruku. 

Mengenai lengahnya orang-orang mutakhir, tidaklah bisa dijadikan contoh. 

Maksud penyusun menguraikan dan menjelaskan masalah ini adalah agar tidak ada 

atau jangan sampai ada orang mencemooh mereka yang" terbiasa membaca surat 

al-Waqi'ah. Karena, kita tidak mengetahui maksud dan tujuan beliau serta 

urusannya. Atau, jangan-jangan kita salah sangka terhadap mereka yang mubtadi 

(mendapat petunjuk), dikarenakan ilmunya masih dangkal, meski hatinya bersih. 

Orang-orang berilmu, ahli tajarrud, ahii zuhud. orang-orang sabar, dan 

sebagainya, juga memohon rezeki kepada Allah dengan membaca surat al-Waqi'ab. 

Mereka mengamalkannya karena merupakan sunah Nabi. Karena yang paling 

penting tatkala mengerjakannya adalah kana'at dalam hati dan sebagai bekal guna 

beribadah kepada Allah. Bukan untuk menuruti hawa nafsu dan syahwat. Dan bukan 

pula karena ketidakmampuannya menahan penderitaan dan kesengsaraan. 

Cela kedua: adalah sifat ‘ujub. 

Kewajiban menjauhi sifat ‘ujub dikarenakan dua sebab: 

Pertama, ‘ujub menghalangi taufik dan ta'yid dari Allah. 

Dan seseorang yang tidak mendapatkan taufik dan ta'yid dari Allah akan mudah 

celaka. 

Rasulullah SAW. bersabda: 

Ada tiga perkara yang menyebabkan celakanya seseorang: 

a. Sifat kikir. 

b. Menuruti hawa nafsu. 




c. Sifat ‘ujub. 

Kedua, ‘ujub dapat merusakkan amal saleh. 

Sehubungan dengan hal itu, Nabi Isa as. berkata, "Wahai para hawariy, banyak 

lampu padam karena angin, dan banyak pula ahli ibadah rusak karena ‘ujub. " 

Berarti, seseorang yang bermaksud mencari manfaat ibadah sedangkan ‘ujub

menyebabkan hilangnya manfaat ibadah: 

Maka, orang ‘ujub tidak akan berhasil mendapatkannya. Kalaupun toh ada 

kebaikan pada dirinya, sangatlah sedikit.

‘ujub, artinya mengagungkan diri, atau menganggap agung amal yang telah 

dilakukan. Misalnya dengan mengatakan, "Akulah orang paling saleh. Tidak ada 

orang yang melebihi kesalehanku. " 

Sedang menurut para ulama, ‘ujub adalah: seseorang beranggapan bahwa 

kemuliaan amal saleh disebabkan adanya suatu perkara atau sebab, bukan karena 

Allah SWT. Dan ‘ujub itu mempunyai tiga wujud, yakni: diri sendiri, makhluk, dan 

barang. 

Suatu saat, ‘ujub itu terdiri dari dua sujud. Misalnya, seseorang mengatakan,

"Jika aku tidak mempunyai uang, tentu tidak bisa menunaIkan ibadah haji." Berarti, 

‘ujubnya berwujud diri sendiri dan harta benda. Selain itu, bisa juga ‘ujub berwujud 

tunggal. 

Lawan ‘ujub adalah dzikrul minnah, artinya mengingat karunia Allah. Harus 

selalu diingat, bahwa amal saleh yang dapat dikerjakan Itu karena adanya taufik dari 

Allah. Sesungguhnya, Allah-lah yang memuliakan amalannya dan yang memperbanyak pahalanya. 

Sehingga, dzikrullah wajib hukumnya di saat ‘ujub hinggap pada diri seseorang. 

Dan sunat hukumnya pada saat ‘ujub tidak ada pada seseorang. 

Pengaruh ‘ujub terhadap amal, menurut sebagian ulama adalah, "Seseorang 

yang bersifat ‘ujub hanyalah menunggu ihbat (amal yang sia-sia/tidak ada 

pahalanya). Jika sebelum mati ia sempat bertaubat, selamatlah ia. Tetapi, jika tidak 

sempat bertaubat, maka sia-sialah amalannya dan tidak mendapatkan pahala 

barang sedikit pun. 

Menurut madzhab Ibnu Sabir, salah satu golongan Karamiyah, bahwa ihbat itu 

menghilangkan segala amal baik, sehingga meniadakan pahala dan pujian dari Allah 

SWT. 




Tetapi menurut ulama lain, ihbat itu menghilangkan berlipatgandanya pahala. 

Artinya bahwa mendapatkan satu pahala. 

Dalam masalah ‘ujub, manusia terbagi menjadi tiga golongan: 

‘ujub untuk selamanya. Sekalipun ia menyadari adanya karunia Allah, namun 

tetap saja ia bersifat ‘ujub. Yakni, golongan Mu 'tazilah dan Qadariyah, mereka 

tidak memandang Allah. Menurut pendapatnya, segala perbuatannya 

merupakan inisiatif dan ciptaan sendiri, bukan dari Allah. Begitulah aqidahnya, 

sehingga selamanya ia bersifat ‘ujub. Mereka mengingkari adanya taufik dan 

pertolongan Allah serta lathif-nya Allah. Hal itu dikarenakan adanya syubhat 

yang menguasai dirinya. 

2. Golongan ini, mengingat adanya karunia Allah, segala tindakannya dianggap 

sebagai karunia Allah. Sehingga, mereka tidak pernah bersifat ‘ujub atas 

amalan-amalannya. Hal itu dikarenakan mereka senantiasa berhati-hati, dan diberi kewaspadaan oleh Allah, serta dikhususkan dengan ta'yid dari Allah SWT. 

Dan inilah golongan yang lurus. 

3. Golongan campur aduk. Kadang-kadang ‘ujub, tetapi suatu saat tidak. Mereka 

adalah kebanyakan ahli sunnah. Terkadang, menyadari karunia Allah, terkadang 

ia lengah. Rasa "aku"-nya terkadang timbul secara mendadak. Hal itu 

dikarenakan lemahnya ijtihad dan kurang berhati-hati. 

Sehubungan dengan keberadaannya golongan Qadariyah dan Mu'tazilah itu, 

ada yang mengatakan sebagai kesalahan sendiri. Ada juga yang berpendapat bahwa 

pahalanya tidak akan hilang dikarenakan satu i'tikad, yang pada umunya mengenai 

firqah-firqah Islam, kecuali semua amalannya di- ‘ujub-kan. 

Selain ‘ujub dan riya, masih banyak lagi sifat-sifat yang dapat merusakkan amal. 

Tetapi, yang dua ini merupakan dasar atau sebab utama rusaknya amal. 

Sebagian guru mengatakan, bahwa manusia wajib memelihara amalnya dari 

sepuluh perkara: 

1. Munafik. 

2. Riya. 

3. Ikhlas, tetapi mengandung riya. 

4. Mengungkit-ungkit. 

5. Mengganggu orang lain. 




6. Berbuat sesuatu yang akan disesali. 

7. Memelihara diri dari sifat ‘ujub. 

8. Menjaga diri jangan sampai menyesali suatu perbuatan. 

9. Jangan lalai. 

10.Jangan takut mendapat celaan.

Adapun lawan dari yang sepuluh itu adalah: 

1. Ikhlas dalam beramal. 

2. Ikhlas dalam memohon pahala kepada Allah SWT. 

3. Penuh keikhlasan. 

4. Menyerahkan segala amalan kepada Allah SWT. 

5. Menjaga diri, jangan sampai menyakiti orang lain. 

6. Membulatkan tekad. 

7. Mengingat kebaikan dan jasa Allah. 

8. Mempergunakan waktu sebaik-baiknya untuk beramal. 

9. Mengagungkan taufik Allah. 

10.Semata-mata takut kepada Allah. 

Sifat munafik dapat menghilangkan pahala amal. Dan riya mengakibatkan 

amalan seseorang ditolak Allah SWT. 

Memberi sedekah, kemudian mengungkit-ungkit, mengakibatkan batalnya 

pahala yang berlipatganda, Adapun penyesalan dapat menyebabkan hilangnya 

pahala dari amal secara keseluruhan. Dan ‘ujub menghilangkan berlipatgandanya 

pahala bersedekah itu. 

Adapun lengah dan takut, mendapatkan celaan menjadikan ringan 

timbangannya pada mizan, kelak. 

Jadi, dikabulkan atau ditolaknya amal oleh Allah SWT. bergantung kepada 

sikapnya, mengagungkan atau menganggap remeh. Jika mengagungkan, maka akan 

dikabulkan. Tetapi, jika meremehkan, maka Allah akan menolak amalan itu. 

Ihbat, yaitu menghilangkan manfaat-manfaat amal. Sehingga, ihbat kadangkadang menghilangkan pahala atau menghilangkan berlipatgandanya pahala. 

Pahala merupakan kemanfaatan yang dapat dimengerti oleh akal, 'ain, qarinah




qarinah, dan keadaannya. Adapun selebihnya dari semua itu adalah tad'if 

Dan yang lebih berat lagi ialah razanah, yakni adanya qarinah-qarinah awal. 

Misalnya, memberi sedekah kepada orang baik. Timbangannya akan lebih berat 

dibanding memberi sedekah orang jahat. Lebih-lebih bersedekah kepada Nabi, maka 

timbangannya akan lebih berat lagi. 

Berarti, setiap amal tentu ada razanah-nya (nilai beratnya). 

Semoga kita dapat memahami makna-makna yang terkandung dalam masalah 

ini. Dan semoga -Allah melimpahkan taufikNya kepada kita. 

Sehubungan dengan sifat riya, Allah SWT, berfirman: 

Allah-lah Yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula 

bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui 

bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya 

Allah. ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (atb-Thalaq :

12). 

Seolah-olah dengan ayat tersebut Allah berfirman: 

Sesungguhnya Aku telah menciptakan langit dan bumi dan apa 

yang ada antara keduanya, yang demikian itu adalah ciptaan-Nya dan 

keunikannya. (Hal itu) cukuplah untuk dilihat olehmu, agar kamu 

mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa, Aku-lah Yang Maha 

Mengetahui. Sedang kalian melaksanakan shalat dua raka'at saja 

dibarengi dengan berbagai cela yang dilakukan secara serampangan. 

Karenanya, tidak layak bagimu untuk Aku lihat, tidak layak untuk Aku 

melihatmu, tidak layak Aku memujimu, tidak layak Aku mensyukuri. 

Kenapa kamu menghendaki pujian dari orang lain hanya lantaran 

shalatmu yang dua raka'at itu. Apakah keluar seperti itu berarti 

kesetiaan terhadap Aku? Apakah yang seperti itu merupakan 

pendirian yang diingini setiap orang? Celakalah kamu, dan apakah 

kamu tidak berpikir? 

Seorang pemilik permata mahal, indah lagi antik seharga satu juta dinar, 

misalnya, jika dijual dengan harga sepeser, bukanlah suatu kerugian besar, jika 

dibandingkan keridhaan Allah SWT. serta pahala-Nya. Karena keridhaan, pahala, dan 

rahmat Allah tidak sebanding dengan segala isi dunia. 

Sehingga merugilah orang yang tidak mendapatkan kemuliaan dan keridhaan 

Allah, yang hanya puas dengan pujian dan sanjungan orang. 

Kemudian, jika masih menghendaki bimmah, haruslah ditujukan untuk akhirat, 

Sehingga dunia pun akan mengikutinya. Atau yang lebih baik dan utama adalah 

dengan niat lillahi ta'ala. Maka dengan karunia-Nya, Insya Allah akan mendapatkan 

dunia akhirat. Sesungguhnya Allah-lah Penguasa dunia akhirat. 




Sebagaimana firman Allah Ta'ala: 

Barangsiapa yang menhendaki pahala di dunia saja (maka ia 

merugi), karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat.... (anNisa ". 134). 

Rasulullah SAW. bersabda: 

Sesungguhnya Allah suka memberi keduniaan dengan jalan amal 

akhirat. Tetapi jika amalannya dikhususkan untuk dunia, maka tidak 

akan mendapatkan akhirat. 

Dengan demikian, niat yang ikhlas, ditujukan untuk akhirat, maka akan 

menghasilkan dunia dan akhirat. Tetapi jika hanya ditujukan untuk dunia, maka 

akhiratnya akan hilang, dan hanya mcndapatkan dunia. Padahal, dunia tidak kekal, 

sehmgga keadaannya merugi dunia akhirat. 

Sesungguhnya, jika orang mengetahui bahwa amalan seseorang dikarenakan 

dan diperuntukkan baginya, bukan karena Allah, tentu orang itu akan membencinya. 

Saking bencinya ia akan menghina dan meremehkan orang yang berbuat itu. 

Apabila beramal dan terdapat sifat riya, hendaknya riya itu ditujukan kepada 

Allah. Sehingga Allah meridhai, mencintai dan mencukupi segala kebutuhannya.

Untuk menghindarkan diri agar tidak mencari keridhaan makhluk, jalan 

keluarnya sebagai berikut: 

Mengkhususkan iradat, yakni mengerjakan sesuatu karena Allah semata. Sebab 

hati dan ubun-ubun manusia ada pada kekuasaan Allah. Dia-lah yang menguasai hati 

manusia. 

Sehingga, untuk memperoleh sesuatu tidak bisa hanya mengandalkan usaha 

sendiri dan menyandarkan pada tujuan semata. Maka jika seseorang bermaksud 

mendapatkan keridhaan orang lain, bukan keridhaan Allah, maka Allah akan membelokkan hatinya, Sehingga orang lain membenci dan menjauhinya. 

Bukan hanya orang lain yang membencimu, tetapi Allah pun akan 

membencimu, betapa ia merugi ... 

Imam Hasan Bashri mengisahkan, bahwasanya ada seseorang berkata dalam 

hatinya, "Demi Allah, aku akan beribadah kepada Allah dengan sungguh-sungguh, 

Sehingga aku menjadi terkenal, dan ibadahku dilihat orang lain."

Setiap ke masjid, ia datang paling awal, dan paling akhir keluarnya. Semua itu 

dimaksudkan agar orang lain melihatnya. Sehingga, kesannya seolah-olah ia orang 

yang rajin shalat, puasa, senantiasa hadir dalam majlis ta'lim, dan sebagainya. 




Perbuatan seperti itu berlangsung selama tujuh bulan. Tetapi, apa hasilnya, 

setiap ia melewati orang banyak, bukan pujian yang didapat, tetapi umpatan dan 

cercaan. "Mudah-mudahan Allah mencelakakannya, karena ia riya." Ada juga orang 

mengatakan, "Itu dia, ahli riya sedang lewat!" 

Maka, akhirnya ia insyaf dan sadar. Ia tetap pergi ke masjid dan menghadiri 

majlis Ta'lim, tetapi niatnya telah dirubah, yakni lillahi ta'ala 

Setelah demikian, berkatalah orang-orang, "Mudah-mudahan Allah 

melimpahkan rahmat kepadanya, lantaran kebaikannya. “

Kemudian Imam Hasan Bashri membaca ayat: 

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan 

Yaumul akhir, serta beramal saleh, bakal mcndapatkan kecintaan 

Allah SWT. 

Selanjutnya, Imam Hasan Bashri mengatakan, "Allah akan mencintai dan 

mengasihinya, serta akan dicintai kaum Mu’minin. 

Sebuah sya'ir mengatakan: 

Hai orang-orang yang ingin mcndapatkan pujian orang lain, yang 

beramal untuk meminta pahala kepada sesama, sesungguhnya 

pengharapan itu mustahil, 

Allah tidak akan mengabulkan permohonan orang-orang riya, 

hanya kelelahan dan sia-sialah amal kalian. 

Barangsiapa bersungguh-sungguh mengharap keri.dhaan Allah 

pastilah amalannya pun akan dijalankan dengan Ikhlas, dengan rasa 

takut kepada Allah. Mas;lah kekal di neraka atau di surga adalah 

tergantung kehendak Allah. 

Jika riya, riyalah kepada Allah, sehingga Dia akan memberikan 

pahala. Sesungguhnya, manusia tidak mempunyai daya dan kekuasaan. 

Mengapa harus riya kepada sesama manusia? Sesat sekah orangorang yang demikian! 

Kini, marilah kita bahas masalah 'uqub: 

Pokok pertama: 

Nilai amal seseorang ditentukan oleh keridhaan Allah. Sehingga, jika amal 

seseorang tidak diridhai dan ditolak oleh Allah berarti amalannya tidak bernilai 

(berharga). Dan amalan yang diterima dan diridhai Allah, nilainya tidak terbilang, 

bahkan isi dunia pun tidak cukup untuk menghitungnya. 

Allah Ta'ala berfirman: 

......Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang 




dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (az-Zumar : 10). 

Dan Nabi Muhammad SAW. bersabda: 

Allah telah menyediakan bagi hamba-hamba-Nya yang suka 

berpuasa, pahala yang belum pernah terlihat mata, pernah terdengar 

telinga, dan belum pernah tergores dala hati manusia. 

Dengan demikian, tenaga yang kita keluarkan untuk manusia dihargai hanya 

dengan beberapa dirham saja. Sedangkan jika dipergunakan untuk beribadah, maka 

harganya tidak ternilai. Sedangkan puasa Itu tidaklah seberapa beratnya, hanya 

sekedar menukar waktu makan; makan siang dipindahkan waktunya menjad makan 

malam. 

Apabila seseorang "melek" semalam untuk mengerjakan shalat, dan ikhlas 

semata-mata karena Alla, maka pahalanya tidak ternilai, kemuliaan dan harganya 

sungguh tak terbilang.

Allah Azza wa Jalla berfirman: 

Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk 

mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan 

pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka

kerjakan. (as-Sajdah : 17). 

Sesungguhnya dengan waktu yang amat sedikit dengan tenaga yang ringan, 

jika dipergunakan untuk beribadah kepada Allah akan mendatangkan kemuliaan dan 

pahala yang tidak ternilai. Bahkan hanya dengan sekali nafas untuk mengucapkan 

lailaha illalla’ pahalanya sudah sangat besar.

Allah Ta'ala berfirman: 

... Dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh, baik laki-laki 

maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka 

akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab. 

(al-Mu'min : 40). 

Memang, menurut ahli dunia, sekali napas amatlah murah. Juga, menurut kita, 

sekali napas tidaklah berarti apa-apa. Kalau kita kaji, berapa banyak napas yang kita 

sia-siakan untuk perkara yang tidak berguna sama sekali. Berapa zaman telah berlalu 

dengan begitu saja. Sedangkan bila dipergunakan untuk lillahi ta'ala, nilainya sangat 

tinggi. Sebab, hal itu menjadi pangkal dan sebab diterimanya amalan oleh Allah 

SWT. 

Dengan demikian, seseorang yang berpendirian kuat haruslah beranggapan 

bahwa amalan diri yang telah dilakukan adalah hina. Sebab pada kenyataannya, 

amalan seseorang di mata orang lain sangatlah hina, tidak sesuai dengan keadaan 




sesungguhnya. Selain itu, janganlah memandang kepada selain Allah. Karena amalan 

yang dimuliakan Allah, Sehingga mendatangkan pahala besar, hal itu semata-mata 

karena karunia Allah jua. 

Selain itu, hendaknya kita pandai memilih, amalan mana yang pantas 

diperuntukkan bagi Allah, dan mana kiranya yang diridhai Allah SWT . 

Pokok kedua: 

Sebab, kita dilarang bersifat ‘ujub karena Allah telah menetapkan pahala bagi 

hamba-ham ba-Nya. Karena, Tuhan-lah yang mengatur dan menjadikan kita. 

Sehingga Allah Maha Mengetahui apa-apa yang ada pada diri kita dan Mengetahui 

kebutuhan kita. 

Firman Allah Ta'ala: 

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu 

tak dapat menentukan jumlahnya .... (an-Nahl : 18). 

Sebagaimana dijanjikan Allah, kelak di akhirat akan diberi pahala 'yang baik dan 

berbagai kehormatan. 

Pokok ketiga: 

Salah satu sebab lagi, kita dilarang bersifat ‘ujub. Allah adalah Tuhan yang wajib 

dan berhak dipuji dan disucikan. Langit, bumi dan segenap isinya, wajib bersyukur 

kepada-Nya, wajib bersujud ke hadirat-Nya. 

Di antaranya, yang menjadi khadam adalah Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, dan 

Izrail, serta malaikat-malaikat yang memangku 'Arasy, malaikat Karubiyyun, 

malaikat Rahaniyyun, dan banyak lagi malaikat yang hanya diketahui Allah. Para 

malaikat begitu tinggi derajatnya, begitu suci, dan begitu sempurna ibadahnya. 

Selain mereka, yang berbakti kepada Allah adalah Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, 

Musa, Isa, Muhammad, dan seluruh Nabi serta para Mursalin shalawatullah

wasalamuhu 'alaihim ajma'in. Mereka mendapatkan manakib dan martabat 

demikian tinggi, begitu mulia, serta maqam-maqamnya begitu mulia, dan ibadahnya 

sangat agung dan mulia. 

Setelah para Nabi, yang berbakti kepada Allah adalah para Imam dan ulama, 

dan para ahli zuhud yang mempunyai martabat agung dan mulia. Dengan jasmani 

yang bersih dan suci, mereka memperbanyak ibadah dengan ikhlas dan saling membantu. 

Adapun yang paling hina di antara para khadam di hadapan Allah adalah para 




raja zhalim. Meskipun mereka bersujud kepada Allah, namun tetap saja hina. 

Mereka mengibas-ngibaskan mukanya ke tanah dan patuh kepada Allah. Di kala 

menghadapi kesulitan, mereka bermohon kepada Allah sambil menjerit, menangis, 

merendahkan diri, dan menghambakan diri kepada Allah. Mereka menyadari 

kekurangannya, bersujud dan merasa hina. Dan Allah hanya sekali melihat mereka, 

kemudian Allah memenuhi kebutuhan mereka atau memaafkan dosa-dosanya. 

Demikianlah Keagungan dan luasnya Kekuasaan Allah, begitu sempurna dan 

tinggi. Kelak Allah akan mengizinkan kita, meskipun kita bukanlah malaikat, Nabi, 

wali, ataupun raja. Bahkan meskipun kita banyak aib dan kotor. 

Sehingga, dengan izin Allah itu, kita bisa menyembah dan memuji-Nya. Bahkan 

terkadang kita berani meminta sesuatu kepada-Nya. 

Kepada Allah-lah kita memohon perlindungan dan pertolongan. Dan hanya 

kepada-Nya kita mengadukan kebodohan diri. 

Jika kita mengerjakan shalat malam, menyembah kepada-Nya dengan dua 

rakaat. Setelah selesai kita harus berfikir, berapa banyak orang mengerjakan shalat 

pada malam itu, seluruh hamba Allah yang tersebar di seluruh penjuru dunia, baik di 

darat, laut, gunung, dan di kota-kota. Bermacam ragam orang beristiqamah, para 

siddiqien, orang-orang yang taqwa, yang rindu, dan yang bersungguh-sungguh

tadharru. Berapa banyak pula pada saat itu orang hadir di pintu gerbang, Allah SWT

dengan ibadahnya yang suci dan Ikhlas serta khusu, dan juga dengan dzikir 

melafalkan kalimat suci diiringi tetesan air mata, hati yang tulus dan bersih, serta 

taqwa. 

Sedangkan shalat kita, rneskipun dengan sungguh-sungguh, dikerjakan dengan 

sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya, tetap tidak layak dipersembahkan kepada 

Allah Yang Maha agung, sama sekali tidak akan terlihat jika dibandingkan dengan

Ibadah lain yang dipersembahkan di sana. 

Apalagi jika shalat yang dua rakaat itu dilaksanakan dengan asalan-asalan, 

dicampuri dengan keaiban dan kekotoran, serta diucapkan oleh lisan kotor dan 

dibumbui perbuatan maksiat. Bagaimana ishlahnya shalat yang demikian 

dipersembahkan kehadirat Allah Yang Maha Suci?! 

Guru kami mengatakan, "Pikirkan olehmu hai orang yang berpikir sehat. 

Pernahkah kamu mempersembahkan shalat ke langit seperti kamu 

mempersembahkan makanan ke gedung-gedung megah?" 

Syaikh Abu Bakar al-Waraq berkata, "Setiap selesai shalat, saya selalu merasa 




malu mempersembahkan shalat yang baru aku lakukan itu. Lebih malu dari seorang 

perempuan yang telah melakukan zina." 

Allah Maha Pemurah. Hanya dengan Kemurahan dan Kemuliaan-Nya Allah 

memperbanyak pahala dan menerima shalat dua rakaat itu. Allah juga menjanjikan 

pahala besar bagi hamba-Nya. Kita mampu mengerjakan shalat itu pun karena 

taufiq-nya. Allah memudahkannya, namun, mengapa kita bersifat ‘ujub? 

Mengingkari karunia-Nya. Sungguh suatu keanehan yang nyata ... ! 

Hal semacam itu sebenarnya tidak perlu terjadi, kecuali terhadap orang jahil 

yang pendek pikir dan orang yang buta mata hatinya. 

Marilah kita tempuh tahapan dan tanjakan ini. Sebab apabila kita tidak segera 

menyadari, maka akan merugi. Karena tanjakan ini yang paling sulit dan berat, 

paling pahit, dan paling besar bahayanya. 

Orang yang berhasil melampaui tahapan ini akan mendapatkan keuntungan. 

Tetapi jika sebaliknya, maka usaha kita akan sia-sia. 

Yang paling penting dalam tanjakanltahapan ini adalah tiga perkara: 

1. Urusan ini sangat luas. 

2. Bahaya ruginya sangat hebat. 

3. Bahaya celakanya sangat besar. 

Sedangkan kehalusan masalah mi: Karena jalan menuju riya dan ‘ujub dalam 

amalan ini sangat halus, sehingga kita hampir tidak menyadari, kecuali orang-orang 

bijaksana dalam masalah agama dan yang benar-benar waspada, orang yang hatinya 

terbuka. Sehingga kita senantiasa harus mengingat dan berhati-hati. 

Sebagian ulama kita mengatakan, "Almarhum Sayyidina Atha' as-Sulami pada 

suatu saat menenun dan dihiasi menurut seleranya. Setelah selesai tenunan itu 

dibawanya ke pasar untuk dijajakan. Tetapi seorang pedagang kain menawar rendah 

sekali. Kemudian pedagang itu berkata, 'Tenunanmu ini banyak cacatnya, ini dan 

itu.' 

Maka, tenunan itu dibawanya pulang. Sampai di rumah beliau menangis 

tersedu-sedu. Hingga pedagang kain tadi menyesal dan meminta maaf kepada Atha' 

as-Sulami. Kemudian pedagang kain itu menawar dengan harga tinggi sesuai dengan 

penawaran Atha'. Maka berkatalah Sayyidina Atha', 'Bukan masalah itu yang 

menyebabkan aku menangis. Aku hanyalah buruh tenun. Aku bersungguh-sungguh 

dalam menenunnya. Menurut aku tenunan ini tidak ada celanya, tetapi setelah 




kuperlihatkan kepada ahlinya, baru aku mengetahui cacat dan aibnya yang semula 

tidak aku ketahui." 

Demikian juga amalan yang kita persembahkan. kepada Allah. Betapa banyak 

aib dan cacatnya, sedangkan kita tidak mengetahuinya. 

Sebagian shalihin mengatakan, "Pada suatu malam di kala makan sahur, aku 

berada di loteng yang menghadap ke Jalan. Pada saat itu aku membaca Al-Qur'an, 

surat Thaha. Setelah selesai aku tertidur dan bermimpi ada seseorang turun dari 

langit 'dengan membawa catatan. Kemudian catatan itu dibuka di hadapanku, dan 

aku lihat di dalamnya terdapat surat Thaha yang baru saja aku baca. 

Di bawah tiap-tiap kalimat Surat Thaha itu tercantum pahala sepuluh kali lipat. 

Hanya ada satu kalimat yang di bawahnya tidak tercantum pahalanya. Sehingga aku 

bertanya kepada si pembawa itu, 'Kalimat ini telah saya baca. Terapi mengapa tidak 

tertulis pahalanya?' 

Jawab si pembawa catatan, 'Benar! Engkau memang telah membaca kalimat 

itu, dan kami pun telah menuliskan pahalanya. Akan tetapi kami mendengar ada 

panggilan dari 'Arasy, 'Hapuskan kalimat itu dan hapuskan pula pahalanya!' Oleh sebab itu aku menghapus pahalanya." 

Selanjutnya dalam mimpi itu aku menangis dan menanyakan kepada si 

pembawa itu, "Mengapa bisa demikian?' 

Jawabnya, 'Ketika engkau membaca kalimat itu, ada orang lewat di jalan. 

Kemudian engkau memperkeras bacaan agar terdengar olehnya. Hal itulah yang 

menyebabkan hilangnya pahala." 

Begitulah akibat riya. Sungguh merugi! 

‘ujub dan riya adalah bahaya yang paling besar. Sekejap saja seseorang 

dihinggapi sifat itu dapat merusakkan ibadah tujuh puluh tahun. 

Diriwayatkan, seseorang menjamu Imam Sufyan ats-Tsauri dan para

sahabatnya. Kemudian berkatalah orang itu kepada istrinya, Ambil piringnya dan 

bawa kemari. Bukan piring yang kita beli pada waktu naik haji pertama, tetapi piring 

yang kita beli ketika naik haji yang kedua kali (maksudnya agar orang mengetahui 

bahwa ia telah dua kali menunaikan ibadah haji). 

Maka bergumamlah Imam Sufyan, "Kasihan dia, dua kali menunaikan haji 

tetapi dirusak." 

Ada alasan lain yang menjadi sebab agar jangan bersifat ‘ujub dan riya. Taat 




yang hanya sedikit jika terbebas dari ‘ujub, maka pahalanya sangatlah luas dan 

besar, ptiada batas. Tetapi, meskipun banyak taat namun riya dan ‘ujub, sama sekah 

tidak berharga, kecuali jika mendapatkan rahmat Allah SWT. 

Sebagaimana dikatakan Sayyidina Ali, "Sangatlah tinggi harga amal yang 

dikabulkan oleh Allah." 

Pada suatu hari adaorang bertanya kepada Imam Nakha'i, "Bagaimana pahala 

amal anu dan anu?" 

Jawabnya, "Sekiranya diterima oleh Allah, maka pahalanya tidak terhitung 

karena banyaknya." 

Wahab mengatakan, "Dahulu kala, ada seorang ahli ibadah berpuasa selama 

tujuh puluh tahun. Hanya seminggu sekali ia tidak berpuasa. Kemudian ia berdoa 

memohon dikabulkan kebutuhannya. Namun ternyata permohonannya itu tidak 

dikabullkan oleh Allah SWT. Selanjutnya ia menyalahkan dirinya sendiri, dan berkata, 

'Semua itu salahku sendiri. Sekiranya aku termasuk orang baik, tentu permohonanku 

dikabulkan oleh Allah.' 

Maka Allah memerintahkan malaikat agar mengatakan kepada ahli ibadah itu. 

'Waktumu yang hanya sesaat itu, yakni menyalahkan dan mencaci diri sendiri adalah 

lebih baik dibanding ibadahmu yang tujuh puluh tahun." 

Pikirkanlah setelah mengetahui hal itu. Betapa ruginya beribadah selama tujuh

puluh tahun, sedangkan yang lain hanya ber-tafakkur sesaat tetapi keadaannya lebih 

afdhal di hadapan Allah SWT. 

Benar-benar kerugian besar jika tidak dapat memanfaatkan waktu yang hanya 

sesaat tetapi mendatangkan kebaikan melebihi ibadah selama tujuh puluh tahun. 

Sungguh kerugian amat besar. 

Dengan demikian, dalam ibadah itu bukan banyaknya yang menentukan 

kebaikan, tetapi niat dan- murninya tujuan ibadah itu. Jika diibaratkan, sebutir 

permata lebih baik dan berharga dibanding seribu butir kerikil. 

Orang yang masih dangkal ilmu serta pikirannya dalam masalah ini, tentu tidak 

akan mengerti apa maknanya. Juga akan melalaikan apa yang ada dalam hatinya, 

seperti adanya cacat dan aib. Maka akan menjadikannya berbelah-belah, ruku', 

bersujud dan berpuasa. 

Tertipu dengan memperbanyak ruku' dan puasa tanpa memperhatikan 

kebersihan dan tidak menyadari bahwa dirinya sedang menghadap Allah SWT




 Buat apa kenari yang banyak tetapi kosong. 

 Buat apa mendirikan rumah menjulang tetapi tanpa fondasi. 

Yang mengetahui masalah ini hanyalah orang-orang berilmu, yang dikasyaf, 

yang ma'nfat kepada Allah. Semoga Allah melimpahkan Rahmat, Hidayah. dan 

karunia-Nya. 

Dalam tanjakanltahapan pencela ‘ujub dan nya ini, bahayanya terdapat dari 

berbagai jalan. 

Sedangkan Tuhan yang patut dan berhak kita sembah adalah Allah Swt. 

Keagungan-Nya tiada berujung, Kebesaran-Nya tiada berpenghabisan. Ia telah 

memberikan berbagai kenikmatan yang tak terhitung banyak dan besarnya kepada 

kita. Sedangkan diri kita penuh dengan keaiban terselubung, dihinggapi sifat-sifat 

hina dan merusakkan, yang dikuatirkan akan menjerumuskan, karena nafsu sangat 

mudah terperosok. 

Jika demikian, maka kita wajib beramal dengan baik dan bersih, sehat dan 

bebas dari cela serta aib. Sehingga ibadah kita pantas dipersembahkan kepada Allah 

Yang Mahaagung, Mahabesar, Mahamurah. 

Dengan semua itu, berharap ibadah kita diterima. Sebab jika ditolak sia-sialah 

ibadah kita, tidak mendapatkan pahala: 

Ada malaikat CIptaan Allah yang tugasnya hanya berdiri, ada pula yang hanya 

ruku', sujud, bertasbih, dan ada juga yang hanya bertahlil. Tiada pemah berhenti 

mereka menjalankan tugas Allah itu. Bahkan, mereka memperkeras bacaan hingga 

kiamat datang. 

Setelah selesai berbakti - bakti yang sangat besar - mereka secara bersamaan 

menjerit, "Ya Tuhan, kami merasa tidak bersungguh-sungguh dalam beribadah 

kepada-Mu." 

Rasulullah SAW., sebaik-baik manusia, yang paling mengetahui di antara 

makhluk, paling utama, bersabda: 

Aku tidak .. bisa memuji-Mu, lantaran sangat banyak yang harus dipuji. 

Demikianlah keadaan-Mu, sebagaimana Engkau memuji Diri Sendiri. 

Maksud sabda tersebut, "Aku tidak dapat memuji-Mu dengan layak, apalagi 

benbadah. Sedangkan memuji dengan pujian yang layak pun tidak bisa." 

Selanjutnya beliau bersabda: 




Tiada seorang pun masuk surga karena amalannya. 

Tanya para sahabat, "Juga engkaukah, ya Rasulullah?" Jawab Rasulullah, 

"Ya! Aku pun demikian. Kecuali jika Allah menyelimutiku dengan rahmatNya." . 

Mengenai nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada kita Allah berfirman:

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu 

tak dapat menentukan jumlahnya .... (an-NahI: 18). 

Dan sebagaimana diriwayatkan, dikumpulkannya semua makhluk di padang 

mahsyar adalah untuk diperiksa tiga catatan: 

 Catatan kebaikan 

 Catatan keburukan, dan

 Catatan mengenai nikmat Allah 

Catatan-catatan itu kemudian diperbandingkan. Kebaikannya dengan nikmat 

Allah, setiap kebaikan akan mendatangkan nikmat Allah. Sehingga kebaikan itu 

tertutup oleh nikmat Allah, dan kini yang tinggal hanyalah keburukan dan dosa. 

Selanjutnya hal itu bergantung Allah, akan diampuni atau tidak, Kehendak Allah yang 

menentukan. 

Mengenai aib dan sifat-sifat buruk, telah penyusun jelaskan. Tetapi yang paling 

dikuatirkan adalah kosongnya nilai ibadah. Sebab ada orang beribadah bertahuntahun, bahkan puluhan tahun tetapi lengah atas aib dan sifat buruk yang ada pada 

dirinya. Sehingga tidak satu ibadah pun yang diridhai dan dikabulkan Allah. 

Atau kadang-kadang ibadah yang sangat lama dirusakkan dalam waktu satu 

jam. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, sedang ia tidak menyadarinya, 

sehingga ia bersifat riya. Ditinjau dari lahiriahnya seolah-olah beribadah untuk Allah, 

tetapi hati dan niatnya tidak demikian. Maka Allah mengusirnya, dan tidak akan 

diseru lagi. 

Ada seorang memimpikan Imam Hasan Bashri yang telah wafat. Kemudian 

orang itu menanyakan bagaimana keadaan Imam Hasan Bashri, maka jawabnya, 

"Allah memerintahkan aku agar berdiri di hadapan-Nya, dan Allah berfirman: 

'Hai Hasan Bashri, ingatkah engkau ketika pada suatu hari shalat di masjid. 

Kamu diperhatikan banyak orang, lantas engkau memperbaiki shalatmu. Maka 

seandainya pada awal shalat itu engkau tidak bersih untuk-Ku, Aku usir engkau dari 

pintuKu! 




Tetapi beruntunglah ia, karena pada waktu itu ber-takbiratu 'l-ihram dengan 

niat lillahi ta'ala. 

Memang urusan ini sangat halus, rumit dan pelik. Bagi yang tajam mata hatinya 

tentu akan memperhatikan dan memikirkan. Mereka kuatir kepada diri sendiri, 

sehingga banyak yang tidak memperhatikan amalannya yang dilihat orang lain. 

Diriwayatkan, Siti Rabi'ah, seorang wali perempuan, mengatakan, "Amalku 

yang dilihat orang lain tidak aku anggap." 

Ulama lain mengatakan, "Sembunyikan kebaikanmu, sebagaimana engkau 

menyembunyikan keburukan." 

Yang lainnya mengatakan," "Apabila engkau bisa menyimpan kebaikan yang 

tidak terlihat orang lain, maka lakukanlah!" 

Dikisahkan, ada seseorang bertanya kepada Siti Rabi'ah, "Apakah yang paling 

sering dan paling besar harapanmu?" 

Jawab Siti Rabi'ah, "Yang menjadi harapanku adalah putusnya harapan dari 

sebagian besar amalku, mudah-mudahan Allah mengampuni. " 

Ada kisah lain, dua orang shaleh dan 'alim bertemu, yakni Muhammad bin 

Wasi' dan Malik bin Dinar. 

Kata Malik bin Dinar, "Tidak ada pilihan bagi kita, kecuali taat kepada Allah atau 

neraka." 

Jawab Muhammad bin Wasi', "Tidak ada lagi, kecuali rahmat Allah atau 

neraka." 

Malik bin Dinar menyahut, "Aduh, perlu sekali kiranya berguru kepada orang 

seperti Tuan." 

Abu Yazid Bustami mengatakan, "Selama tiga puluh tahun aku beribadah 

dengan sungguh-sungguh. Aku bermimpi ada yang berkata, 'Hai Abu Yazid, gudang 

Allah telah penuh dengan ibadah. Jika menginginkan sampai kepada-Nya jangan 

hanya dengan ibadah, tetapi harus dengan tawadhu' dan merasa butuh kepadaNya'." 

Ustadz Abu Hasan menceritakan diri Abu Fadhal. Beliau berkata, "Aku tahu, 

taat yang aku kerjakan ini tidak diterima Allah Swt." 

Seseorang bertanya, "Bagaimana tahu, bahwa amalan-amalan mu tidak 

diterima Allah?" 




Jawab Abu Fadhal, "Sebab aku tahu bagaimana harus taat, sehingga 

dikabulkan. Dan aku menyadari bahwa aku tidak memenuhi syarat-syarat untuk 

terkabulnya, sehingga aku tahu amalan ku tidak diterima." 

Tanya orang itu, "Jika demikian, mengapa kamu taat?" 

Jawabnya, "Semoga pada suatu hari Allah memperbaiki diriku. Dengan 

demikian aku sudah terbiasa taat, sehingga tidak perlu lagi membiasakan diri dari 

awal.' 

Demikianlah keadaan tokoh-tokoh besar kita yang bermujabadab. 

Sebuah sya'ir mengatakan: 

Carilah orang lain selain dia, yang sudah putus dan habis amal 

pengharapannya. Jauh sekali hanya dengan sifat sembrono bisa 

mengejar mereka yang demikian serius dan mendapatkan iqbal Allah 

SWT. 

Ibnu Mubarak menceritakan bahwa Khalid bin Ma'dan berkata kepada Mu'adz, 

"Mohon diceritakan hadits Rasulullah yang engkau hafal dan yang engkau anggap 

paling berkesan. Hadits manakah menurut Tuan?" 

Jawab Mu'adz, "Baiklah, akan aku ceritakan." 

Selanjutnya, sebelum bercerita, beliau menangis. Kemudian, kata beliau,"Ehm, 

rindu sekali aku dengan Rasulullah, rasarasanya ingin segera bertemu." 

Kata beliau selanjutnya, "Tatkala aku menghadap Rasulullah, beliau. 

menunggang unta dan menyuruhku agar naik di belakang beliau. Kemudian 

berangkatlah kami dengan berkendaraan unta itu. Selanjutnya beliau menengadah 

ke langit dan bersabda: 

Puji syukur kehadirat Allah Yang berkehendak atas makhluk-Nya, ya 

Muadz! 

Jawabku, "Ya Sayyidina Mursalin." 

Kata beliau selanjutnya, "Sekarang aku akan mengisahkan satu cerita 

kepadamu. Apabila engkau menghafalnya, akan sangat berguna bagimu. 

Tetapi jika kau anggap remeh, maka kelak di hadapan Allah engkau tidak 

mempunyai hujjah. 

Hai Mu'adz! Sebelum menciptakan langit dan bumi Allah telah 

menciptakan tujuh malaikat. Pada setiap langit terdapat seorang malaikat 

penjaga pintu, dan setiap pintu langit dijaga oleh seorang malaikat, 




menurut derajat pintu dan keagungannya. 

Dengan demikian, malaikat-lah yang memelihara arnal si hamba. 

Kemudian sang pencatat membawa amalan si hamba ke langit dengan 

kemilau cahaya bak matahari. Sesampainya pada langit tingkat pertarna, 

malaikat Hafadzah memuji amalan-amalan itu. Tetapi setibanya pada 

gintu langit pertarna, malaikat penjaga pintu berkata kepada malaikat 

Hafadzah: 

"Tamparkan amal ini ke muka pemiliknya. Aku adalah penjaga orang-orang 

yang suka mengumpat. Aku diperintahkan agar menolak amalan orang 

yang suka mengumpat. Untuk mencapai langit berikutnya aku tidak 

mengizinkan ia melewatiku." 

Keesokan harinya, kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa 

amal shaleh yang berkilau, yang menurut malaikat Hafadzah sangat 

banyak dan terpuji. Sesampai ke langit kedua (ia lolos dari langit pertama, 

sebab pemiliknya bukan pengumpat), penjaga langit kedua berkata, 

"Berhenti, dan tamparkan amalan itu ke muka pemiliknya. Sebab ia beramal dengan mengharap dunia. Allah memerintahkan aku agar amalan ini 

tidak sampai ke langit berikutnya." 

Maka para malaikat melaknat orang itu . 

Hari berikutnya, kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa 

amalan seorang hamba yang sangat memuaskan, penuh sedekah, puasa, 

dan berbagai kebaikan, yang oleh malaikat Hafadzah dianggap sangat 

mulia dan terpuji. Sesampainya di langit ketiga, malaikat penjaga berkata: 

"Berhenti! tamparkan amal itu ke wajah pemiliknya. Aku malaikat menjaga 

kibr (sombong). Allah mernerintahkanku agar amalan semacam ini tidak 

melewati pintuku dan tidak sampai pada langit berikutnya. Itu karena 

salahnya sendiri, ia takabbur di dalam majlis." 

Singkatnya, malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal hamba 

lainnya. Amalan itu bersifat bak bintang kejora, mengeluarkan suara 

gemuruh, penuh dengan tasbih, puasa, shalat, ibadah haji, dan umrah. 

Sesampainya pada langit keempat malaikat penjaga langit berkata: 

"Berhenti! popokkan arnal itu ke wajah pemiliknya. Aku adalah malaikat 

penjaga ‘ujub. Allah memerintahkanku agar amal ini tidak melewatiku. 

Sebab amalnya selalu disertai ‘ujub. 




Kembali malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal hamba yang 

lain. Amalan itu sangat baik dan mulia, jihad, ibadah haji, ibadah umrah, 

sehingga berkilauan bak matahari. Sesampainya pada langit kelima, 

malaikat penjaga mengatakan: 

"Aku malaikat penjaga sifat hasud. Meskipun amalannya bagus, tetapi ia 

suka hasud kepada orang lain yang mendapatkan kenikmatan Allah SWT. 

Berarti ia membenci yang meridhai, yakni Allah. Aku diperintahkan Allah 

agar amalan semacam ini tidak melewati pintuku. " 

Lagi, malaikat Hafadzah naik ke langit membawa amal seorang hamba. Ia 

membawa amalan berupa wudhu' yang sempurna, shalat yang banyak, 

puasa, haji, dan umrah. Sesampai di langit keenam, malaikat penjaga 

berkata: 

"Aku malaikat penjaga rahmat. Amal yang kelihatan bagus ini tamparkan 

ke mukanya. Selama hidup ia tidak pernah mengasihani orang lain, bahkan 

apabila ada orang ditimpa musibah ia merasa senang. Aku diperintahkan 

Allah agar amal ini tidak melewatiku, dan agar tidak sampai ke langit 

berikutnya." 

Kembali malaikat Hafadzah naik ke langit. Dan kali ini adalah langit ke 

tujuh. Ia membawa amalan yang tak kalah baik dari yang lalu. Seperti 

sedekah, puasa, shalat, jihad, dan wara', Suaranya pun menggeledek 

bagaikan petir menyambar-nyambar, cahayanya bak kilat. Tetapi sesampai 

pada langit ketujuh, malaikat penjaga berkata: 

"Aku malaikat penjaga sum'at (sifat ingin terkenal). Sesungguhnya pemilik 

amal ini menginginkan ketenaran dalam setiap perkumpulan, 

menginginkan derajat tinggi dikala berkumpul dengan kawan sebaya, ingin 

mendapatkan pengaruh dari para pemimpin. Aku diperintahkan Allah agar 

amal ini tidak melewatiku dan sampai kepada yang lain. 

Sebab ibadah yang tidak karena Allah adalah riya. Allah tidak menerima 

ibadah orang-orang riya." 

Kemudian malaikat Hafadzah naik lagi ke langit membawa amal dan 

ibadah seorang hamba berupa shalat, puasa, haji, umrah, akhlak mulia, 

pendiam, suka berdzikir kepada Allah. Dengan diiringi para malaikat, 

malaikat Hafadzah sampai ke langit ketujuh hingga menembus hijab-hijab 

dan sampailah di hadapan Allah. Para malaikat itu berdiri di depan Allah. 




Semua malaikat menyaksikan amal ibadah itu shahih, dan diikhlaskan 

karena Allah. 

Kemudian Allah berfirman: 

Hai Hafadzah, malaikat pencatat amal hamba-Ku, Aku-lah Yang 

Mengetahui isi hatinya. Ia beramal bukan untuk Aku, tetapi diperuntukkan 

bagi selain Aku, bukan diniatkan dan diikhlaskan untuk-Ku. Aku lebih 

mengetahui daripada kalian. Aku laknat mereka yang telah menipu orang 

lain dan juga menipu kalian (para malaikat Hafadzah). Tetapi aku tidak 

tertipu olehnya. Aku-lah Yang Maha Mengetahui hal-hal gaib. Aku 

Mengetahui segala isi hatinya, dan yang samar tidaklah samar bagi-Ku. 

Setiap yang tersembunyi tidak tersembunyi bagi-Ku. Pengetahuan-Ku atas 

segala yang telah terjadi sama dengan pengetahuan-Ku atas sesuatu yang 

belum terjadi. Pengetahuan-Ku atas segala yang telah lewat sama dengan 

yang akan datang. Pengetahuan-Ku atas orang-orang terdahulu sama 

dengan Pengetahuan-Ku atas orang-orang kemudian. 

Aku lebih mengetahui atas sesuatu yang samar dan rahasia. Bagaimana 

bisa hamba-Ku menipu dengan amalnya. Bisa mereka menipu sesama 

makhluk, tetapi Aku Yang Mengetahui hal-hal yang gaib. Aku tetap 

melaknatnya ... ! 

Tujuh malaikat di antara tiga ribu malaikat berkata, "Ya Tuhan, dengan 

demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami atas mereka." 

Kemudian semua yang berada di langit mengucapkan, "Tetaplah laknat 

Allah kepadanya, dan laknatnya orang-orang yang melaknat." 

Sayyidina Mu'adz (yang meriwayatkan Hadits ini) kemudian menangis 

tersedu-sedu. Selanjutnya berkata, "Ya Rasulullah, bagaimana aku bisa 

selamat dari semua yang baru engkau ceritakan itu?" 

Jawab Rasulullah, "Hai Mu'adz, ikutilah Nabimu dalam masalah 

keyakinan." 

Tanyaku (Mu'adz), "Engkau adalah Rasulullah, sedang aku hanyalah 

Mu'adz bin jabal, Bagaimana aku bisa selamat dan terlepas dari bahaya 

tersebut?" 

Berkatalah Rasulullah, "Memang begitulah, bila ada kelengahan dalam 

amal ibadahmu, maka jagalah mulutmu jangan sampai menjelekkan orang 




lain, terutama kepada sesama ulama. Ingatlah diri sendiri tatkala hendak 

menjelekkan orang lain, sehingga sadar bahwa dirimu pun penuh aib. 

Jangan menutupi kekurangan dan kesalahanmu dengan menjelekkan 

orang lain. Janganlah mengorbitkan diri dengan menekan dan men 

jatuhkan orang lain. Jangan riya dalam beramal, dan jangan 

mementingkan dunia dengan mengabaikan akhirat. Jangan bersikap kasar 

di dalam majlis agar orang takut dengan keburukan akhlakmu, Jangan suka 

mengungkit-ungkit kebaikan, dan jangan menghancurkan pribadi orang 

lain, kelak engkau akan dirobek-robek dan dihancurkan oleh anjing 

jahannam, sebagaimana firman Allah: 

“dan (Malaikat-malaikat) yang mencabut (nyawa) dengan lemah 

lembut .... (an-Nazi'at :2). 

Tanyaku selanjutnya, "Ya Rasulullah, siapa yang bakal kuat menanggung 

penderitaan berat itu?" 

Jawab Rasulullah SAW., "Mu'adz yang aku ceritakan tadi akan mudah bagi 

mereka yang dimudahkan oleh Allah. Engkau harus mencintai orang lain 

sebagaimana engkau menyayangi dirimu. Dan bencilah terhadap apa yang kau 

benci. Jika demikian engkau akan selamat." 

Khalid bin Ma'dan rneriwayatkan, "Sayyidina Mu'adz sering membaca hadits ini 

seperti' seringnya membaca AI-Qur'an, dan mempelajari hadits ini sebagaimana 

mempelajari Al-Qur'an di dalam majlis." 

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan perlindungan. Mudahmudahan kita tidak termasuk orang celaka. 

Pendek kata. pujian dari Allah adalah jauh lebih baik dibanding pujian dari 

makhluk, yang mana pada dasarnya manusia itu lemah dan bodoh, dan tidak 

mengetahui hakikat yang tersembunyi. 

Seorang penyair mengatakan: 

Tidak tidurnya seseorang semalam suntuk jika tidak karena Allah adalah 

sia-sia. 

Dan menangisi sesuatu selain menangis karena putus hubungan dengan 

Allah adalah percuma. 

Setelah melaksanakan perintah Allah, Nabi Ibrahim mendirikan Baitu 'I-Lah. 

Beliau memohon kepada Allah agar mengabulkan permohonannya. Beliau bersabda: 

Ya Allah, kabulkanlah amal ibadah kami. Engkau-lah Yang Maha




Mendengar dan Maha Mengetahui. 

Selanjutnya beliau bersabda:

Ya Allah, kabulkanlah doa kami. 

Berarti, Allah memberikan karunia kepada hamba-Nya dengan menerima 

ibadah dan amal dari hamba-Nya. Sedangkan ibadah itu di hadapan Allah tidaklah 

berharga. Namun demikian Allah memberikan kenikmatan, karunia, dan 

kebahagiaan yang sempurna. Begitulah kemuliaan, dan keagungan yang disediakan 

bagi hamba-Nya. 

Tetapi jika ibadah dan amal seseorang ditolak Allah lantaran buruk, maka 

merugilah ia. Betapa tidak, tenaga dan waktu terbuang sia-sia, tidak mendatangkan 

hasil samasekali. 

Maka, apabila kita menghitung diri, membolak-balik hati sambil memohon 

pertolongan Allah, kelak akan menghindarkan hati kita dari sifat ketergantungan 

kepada orang lain. Kemudian mawas diri, sehingga tidak riya dan ‘ujub, yang mana 

mengarahkan kita kepada sifat ikhlas, taat, dan senantiasa berdzikir kapada Allah 

SWT. 

Dengan demikian berhasillah taat yang kita laksanakan, bersih tanpa cacat dan 

aib, serta mendatangkan kebaikan dan keuntungan besar. Sebab, taat yang hanya 

sedikit tetapi dikabulkan oleh Allah, akan bermakna luas, kadarnya sangat agung, 

mendatangkan banyak manfaat dan keuntungan. 

Sesungguhnya hanya kepada Allah kita memohon perlindungan serta belas 

kasihan. Dan semoga kita tidak termasuk orang yang termakan tipudaya. 

Demikianlah uraian mengenai tanjakanltahapan pencela ini. Mudah-mudahan 

Allah memasukkan kita ke dalam golongan orang mukhlis, ikhlas lillahi ta'ala, 

sehingga kita mendapatkan kendhaan Allah. Sesungguhnya Allah Maha Memelihara 

lagi Maha Pemurah. 




AQABAH 5. TAHAPAN PENDORONG



 AQABAH 5. TAHAPAN PENDORONG 

Terjemahan kitab minhahul ambidin (imam gazhali)


Untuk selanjutnya, kita harus terus berjalan pada jalan yang lurus. Sebab, 

sudah tidak ada lagi halangan dan rintangan. Selanjutnya, kita resapi rasa takut dan 

harapan itu dengan sebenar-benarnya, sesuai dengan batas-batasnya. 

Rasa takut wajib selalu dipegang karena dua sebab: 

Pertama, Mencegah perbuatan maksiat. Sebab, hawa nafsu senantiasa 

memerintahkan perbuatan kejahatan, dan selalu menggoda. Tidak henti-hentinya 

berbuat demikian, kecuali dibuat takut dan diancam. Nafsu tidak mempunyai tabiat 

baik. Ia tidak malu berbuat apa saja yang bertentangan dengan kesetiaan dan 

kecintaan. 

Sebagaimana dikatakan seorang penyair: 

Hamba yang bandel (hawa nafsu) dipukul dengan tongkat, tetapi 

orang baik, cukup menggunakan kata-kata. 

Nafsu harus dilecut dengan cambuk takhwif (yang membuat ia takut). Baik 

dengan ucapan, dengan perbuatan dan pikiran, sebagaimana diceritakan seorang 

saleh: 

Pada suatu hari, nafsu mengajak berbuat maksiat. Kemudian ia keluar dari 

rumah. Selanjutnya, ia membuka baju dan berguling-guling di padang pasir yang 

sedang terik-teriknya, seraya berkata, "Rasakan olehmu. Panasnya api neraka 

jahannam melebihi panasnya padang pasir ini. Pada malam hari, engkau menjadi 

bangkai, dan pada siangnya menjadi pemalas." 

Kedua, agar tidak dihinggapi sifat ‘ujub (sombong), dengan ketaatan yang -

dapat dikerjakan. Sebab, jika sampai bersifat ‘ujub, maka akan celaka. 

Dan untuk menghantam nafsu diperlukan celaan, diaibkan, diterangkan segala 

kekurangannya, serta keburukan-keburukan dirinya, dosa-dosa dan macam-macam 

bahayanya. 

Rasulullah SAW. bersabda: 

Seandainya aku dan Nabi Isa dihukum oleh Allah lantaran 

perbuatan yang kami lakukan, pasti kami disiksa dengan siksaan yang 

tidak pernah ditimpakan kepada orang lain dan seluruh alam semesta. 

Imam Hasan Bashri mengatakan, "Salah seorang di antara kita pasti merasa 

tidak aman dari berbuat suatu dosa. Kemudian dosa itu menutup pintu ampunan 




dari Tuhan. Dengan demikian, percuma ia beramal, sebab baginya tertutup pintu 

ampunan." 

Jadi, perbuatan dosa yang tidak segera ditangkal dengan taubat, bisa 

mengakibatkan tertutupnya pintu ampunan. 

Imam Abdullah ibnu Mubarak pernah mencela dirinya sendiri, dengan katakata, "Hai diriku, ucapanmu seperti orang yang berzuhud. Tetapi, perbuatanmu 

adalah perbuatan orang munafik. Apakah engkau juga mengharapkan surga? Hal itu 

jauh sekali bagi dirimu! Surga adalah tempat orang-orang lain yang tidak seperti 

engkau. Para ahli surga banyak amalannya, tidak seperti amalmu, wahai diriku!" 

Ucapan-ucapan para Imam 'itu selayaknya senantiasa diulang-ulang untuk 

memperingatkan hawa nafsu, dan agar tidak timbul sifat ‘ujub, serta agar tidak 

terjerumus dalam perbuatan maksiat. 

Kita mengharapkan raja' dikarenakan dua sebab: 

1. Guna membangkitkan keinginan taat. Karena, mengerjakan kebaikan Itu berat, 

dan setan selalu mencegahnya. Demikian pula hawa nafsu, senantiasa 

mendorong kepada perbuatan Jahat. Sedangkan pahala karena taat tidak 

tertangkap oleh mata. Dan Jalan guna memperoleh pahala masih jauh. 

Taat merupakan sikap yang sangat sukar dan berat. Sehingga, nafsu pun 

tidak menyukainya, bahkan tidak ada sama sekali niat berbuat demikian. Dalam 

menghadapi hal ini harus dihadapi dengan mengharapkan rahmat Allah dan

pahala-Nya. 

Guru kami, Abu Bakar al-Warraw mengatakan, "Kesedihan yang sangat 

dapat menghilangkan nafsu makan. Rasa takut yang sebenarnya dan menahan 

diri dari perbuatan dosa, adalah adanya pengharapan dan keinginan untuk taat. 

Dan selalu mengingat maut dapat menghilangkan keinginan terhadap barang 

yang tidak perlu." 

2.Agar tidak merasakan kepayahan dan kesusahan dalam menanggung 

penderitaan, serta kelelahan dalam beribadah. barangsiapa telah mengetahui 

kebaikan sesuatu yang menjadi tujuan, maka dalam memperjuangkannya akan 

terasa rmgan. Selain itu sanggup menanggung kepayahan dalam mencapainya, 

serta tidak perduli adanya berbagai rintangan. 

Barangsiapa menyukai sesuatu, harus rela dan sanggup menanggung 

kepayahannya, dan berkeyakinan bahwa dengan kesulitan dan kesusahan itu 




akan mendapatkan kelezatan dan kenikmatan. Seperti misalnya. pengusaha 

madu. Ia tidak perduli dengan adanya lebah yang suatu waktu menyengatnya. 

Demikian pula orang-orang yang beri bah dengan sungguhsungguh. Tatkala 

mengingat pahala dan balasan Allah berupa surga dengan segala kenikmatan dan 

kelezatannya, maka mereka merasa rmgan dalam beribadah. Meskipun, harus 

menanggung kepayahan dan kelelahan serta mengurangi kenikmatan dunia. 

Ada riwayat mengatakan, bahwa sahabat-sahabat Sayyidina Sufyan ats-Tsauri 

khawatir atas keadaan beliau yang selalu takut, tetapi bersungguh-sungguh dalam 

beribadah sehingga beliau lupa memelihara badan dan pakaiannya. Maka, mereka 

berkata kepada beliau. "Wahai Ustadz, jika engkau tidak sepayah ini, niscaya akan 

tercapai apa-apa yang engkau cari (tuju). Insya Allah." 

Jawab Sayyidina Sufyan, "Bagaimana aku tidak bersungguh-sungguh. sebab aku 

telah mendengar keterangan bahwa di saat ahli surga berada pada tempat masingmasing, datanglah cahaya yang menerangi surga (delapan tingkat) itu. Kemudian, 

mereka bersujud, sebab dikiranya cahaya itu dari Tuhan. 

Lantas. mereka diperintahkan bangkit dari sujud. karena cahaya itu bukan dari 

sisi Tuhan, melainkan dari seorang wanita surga yang sedang tersenyum kepada 

suaminya." 

Kemudian, Sayyidina Sufyan menggubah sebuah syair: 

Orang yang menginginkan masuk surga, tidak merasakan payah 

menanggung kepedihan dan kesempitan. 

Ia tampak mengunjungi sebuah masjid, tetapi hatinya diliputi 

kesedihan dan ketakutan. kecemasan dan kesederhanaan. 

Wahai nafsu! Engkau niscaya tidak akan kuat dengan nyala api, 

saatnya sudah dekat engkau menghadap, setelah lama membelakangi. 

Kesimpulan: Urusan ibadah berkisar pada dua hal. Pertama, taat, dan kedua, 

menjauhi maksiat. 

Keduanya tidak akan berjalan lancar selama nafsu masih melekat. Dan untuk 

mengatasinya adalah dengan targhib dan tarhib, yakni penuh harapan dan takut. 

Ibarat kuda tunggangan binal yang harus dituntun dan digiring dari belakang. Dan 

jika membelot ke tempat yang membahayakan, harus dicambuk hingga ia bangkit 

kembali. 

Demikian pula anak kecil yang nakal. la tidak akan belajar kecuali diberi 

harapan oleh orang tuanya atau takut kepada gurunya. 




Demikian halnya dengan hawa nafsu. la seperti binatang binal yang terperosok 

ke dalam kecintaan dunia. Baginya, takut adalah cemeti, sedangkan harapan sebagai 

makanan. Sehingga, apabila hendak mengajak hawa nafsu pada ibadah dan takwa, 

harus diberi harapan surga dan pahala, serta ditakut-takuti dengan siksa dan neraka. 

Oleh karenanya, orang yang hendak beribadah hendaknya membiasakan diri 

mengingatkan nafsunya dengan dua hal tersebut. Jika tidak, maka nafsu tidak bakal 

mau diajak beribadah. 

Beberapa ayat al-Qur'an menyebutkan, bahwa Allah menjanjikan memberi 

pahala kepada yang taat berupa pahala yang melimpah: Dan ancaman Allah adalah 

bagi orang yang durhaka dengan siksa yang teramat berat dan pedih. 

Jika harapan dan rasa takut itu telah dimiliki, maka ia akan lancar dalam 

beribadah, jauh dari kepayahan dan masyaqat. 

Raja' dan khauf, menurut ulama sufi berarti kembali kepada bagian khawatir, 

yakni hal-hal yang belum dapat diketahui dengan pasti. Adapun yang dapat dicapai

seseorang hanyalah mukaddimab (pendahuluannya). 

Sedangkan menurut ulama kita, khauf adalah suatu getaran dalam hati tatkala 

ada perasaan akan menemui hal-hal yang tidak disukai. Demikian pula khasyyah 

(takut).

Perbedaan antara khauf dan khasyyah ialah: khasyyah disertai perasaan 

mengagungkan dan kagum, seperti takut kepada Allah. 

Adapun lawan khauf, ialah berani atau merasa aman. Tetapi yang paling tepat, 

lawan takut adalah berani. 

Takut kepada Allah artinya takut akan siksa-Nya akibat berbuat maksiat.

Menghindarinya yaitu menjauhi maksiat. 

Kata ulama selanjutnya, bahwa yang dimaksud dengan takut bukan berarti 

seseorang harus selalu menangis. Tetapi, orang yang benar-benar takut ialah 

meninggalkan perbuatan yang dilarang Allah. 

Allah Ta'ala berfirman:

" tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang 

beriman. (Ali Imran ; 175). 

Dengan demikian, berarti kbau]: merupakan syarat iman. Yakni, seseorang 

dikatakan tidak beriman jika tidak takut kepada Allah SWT. 

Adapun M.ukaddimah (pendahuluan) khauf terdiri dari empat hal: 




1. Mengingat segala dosa yang telah diperbuat, .serta banyaknya musuh 

yang membawa kita pada kezhahman. Sedangkan kita tidak dapat lepas 

darinya, dan terus-menerus mengikutinya hingga kini. 

2. Mengingat beratnya siksa Allah bagi orang-orang durhaka, dan kita tidak 

akan kuat menanggungnya. 

3. Senantiasa sadar akan kelemahan diri dalam menanggung pedihnya siksa. 

4. Selalu ingat akan Kekuasaan Allah terhadap diri kita. Dia dapat berbuat 

apa saja sesuai dengan kehendak-Nya, kapan saja Dia menghendaki. 

Syaikh Sahal mengatakan, "Sempurnanya iman seseorang itu dengan ilmu. Dan 

sempurnanya ilmu adalah dengan .rasa takut. Belum cukup iman seseorang jika 

tanpa ilmu. Dan tidak cukup ilmu seseorang jika tidak disertai perasaan takut." 

Allah 'Azza wa J alla berfirman: 

.....Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hambahamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang mengetahui kebesaran 

dan kekuasaan Allah) .... (Fatbir : 28). 

Orang yang takut selain kepada Allah, kelak di saat masuk hang lahat, segala 

yang ditakutinya itu akan datang ke dalam kuburnya dan mengganggu serta 

menyakitinya hingga hari kiamat. 

Daigham ar-Rasiby mengatakan, "Saya menyesal, empatpuluh tahun sudah 

saya menangisi dosa yang saya perbuat. Yaitu, pada suatu hari saya membeli ikan 

untuk menjamu tamu. Setelah mereka makan, saya mengambil segenggam tanah 

dari pekarangan rumah tetangga tanpa seizin empunya. Tanah itu aku maksudkan 

untuk membersihkan tangan." 

Sedangkan raja' (mengharap) ialah bersenang hati karena mengenal Tuhan, 

dari lapang pikirnya karena yakin akan lapangnya rahmat Allah. 

Lawan raja' adalah putus asa dari rahmat Allah dan berhenti mengingat Allah. 

Hal itu benar-benar maksiat. 

Al-Ustadz Abul Qasim al-Qusyairi mengatakan "Raja" adalah tempat 

bergantungnya hati terhadap apa yang disukai, dan akan berhasil pada waktu 

kemudian. Dengan raja', hati menjadi. hidup. Lain halnya dengan tamanni 

(melamun). Tamanni menimbulkan sifat malas. 

Syaikh al-Karmany mengatakan, "Tanda-tanda raja' yaitu taat. " 

Yang berlaku di dunia ini, ibarat seseorang menanam benih yang baik pada




tanah yang subur, kemudian menyiramnya. Perbuatan Itu merupakan raja' yang 

kuat. Kebalikannya, ibarat seseorang menanam benih berkualitas rendah pada tanah 

gersang dan tidak disiram. Kemudian ia mengatakan, "Allah Kuasa 

menumbuhkannya, mudah-mudahan tumbuhan ini tumbuh.” Ucapan itu benar, 

akan tetapi raja'-nya kurang tepat, karena la mengabaikan kebiasaan yang telah 

diperintahkan Allah kepada makhluk-Nya. 

Ibnu Khubaiq membagi raja' menjadi tiga bagian: 

1. Seseorang berbuat kebaikan, kemudian berharap agar diterima. Ini raja' 

yang benar. 

2. Seseorang melakukan keburukan, kemudian bertaubat dan mengharapkan 

ampunan-Nya. Ini pun termasuk raja. 

3. Seseorang senantiasa berbuat dosa dan enggan bertaubat. Kemudian ia 

berkata, "Mudah-mudahan Allah mengampuniku. " Ini tidak termasuk 

raja.

Yang paling tepat, jika seseorang merasa banyak berdosa, maka perasaan 

takutnya harus lebih besar daripada pengharapannya. Karena, dengan takutnya itu 

ia hendak bertaubat. Dan setelah bertaubat, ia raja '. 

Bagi seseorang yang tidak dapat menahan putusan, wajib baginya raja '. 

Mukaddimah raja' ada empat: 

1. Senantiasa mengingat karunia Allah yang telah kita rasakan. Sedangkan 

datangnya itu tanpa campur tangan dan bantuan kita. 

2. Senantiasa janji Allah mengenai pahala yang berlimpah, kasih sayang-Nya 

yang besar menurut karunia dan kemurahan-Nya. Bukan berarti hak kita 

itu berasal dari amalan kita. Sebab, jika pahala menurut amalan, alangkah 

kecil dan sedikit! 

3. Selalu mengingat pemberian Allah yang sangat besar, baik dalam urusan 

agama maupun kebutuhan dunia. Pertolongan dan kasih sayang-Nya, 

bukan karena kita mempunyai hak. 

4. Selalu mengingat luas dan besarnya rahmat Allah. Juga mendahulukan 

rahmat daripada murka-Nya, dan senantIasa ingat bahwa Allah Maha 

Pengasih, Maha Penyayang, Mahakaya, Maka Pemurah, dan mengasihani 

hamba-hamba-Nya yang Mu 'min . 

Allah SWT. menyediakan seratus nikmat. Yang satu diturunkan 




ke dunia dinikmati seluruh makhluk, termasuk jin, burung-burung dan 

binatang kecil. Dengan nikmat yang satu Itu mereka salIng 

mengasihi, sehingga tenteram hidupnya Sedangkan yang sembilanpuluh 

sembilan disimpan guna dlberikan hanya kepada hamba-hamba-Nya 

yang Mu'min pada hari kemudian. 

Ibnu Abbas meriwayatkan turunnya satu ayat: 

..... dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu .... (al-A'raf

156). 

Kemudian turun lagi ayat: 

... Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-oran yang 

bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman 

kepada ayat-ayat Kami. (al-A'raf: 156).

Dengan turunnya ayat itu, maka habislah harapan setan. Akan tetapi, Nasrani 

dan Yahudi masih mempunyai harapan. Mereka mengatakan "Kami umat yang 

takwa dan patuh kepada Tuhan; suka memberi zakat dan beriman kepada ayat-ayat 

Tuhan

Kemudian turun lagi ayat: 

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi .... 

(al-A'raf: 157). 

Setelah turun ayat itu, habis pula harapan Nasrani dan Yahudi. karena rahmat 

yang dijanjikan itu hanya untuk orangorang Mu 'min! 

Oleh karenanya, kaum Muslimin wajib bersyukur atas belas-kasih Allah yang 

telah memberikan nikmat berupa iman. 

Syaikh Yahya bin Mu'adz berdoa: "Ya Allah, jika pahalaMu hanya diperuntukkan 

bagi orang-orang yang taat, dan rahmat-Mu hanya disediakan untuk orang-orang 

yang berdosa, maka saya ini termasuk orang yang berdosa, dan saya tetap 

mengharapkan rahmat-Mu. Berilah saya rahmat-Mu, ya Allah." 

Dan tanda-tanda raja' ialah banyak membaca ayat-ayat al-Qur'an, rajin 

mengerjakan shalat wajib dan tahajjud, serta rela membelanjakan hartanya untuk 

kepentingan umum yang diridhai Allah, dan banyak berdoa kepada Allah SWT. Selain 

itu, merasa lapang hatinya di kala mengingat Allah, bertemu dengan ulama, dan 

hilang rasa bingungnya ketika berdampingan dengan para ahli kebajikan, serta 

gemar tolong menolong dalam berbuat kebaikan dan takwa. 

Jika seseorang senantiasa demikian, maka ia dapat memiliki kbauf dan raja' 

sedalam-dalamnya . 




Maka, wajib bagi kita menempuh tahapan pendorong ini dengan penuh hatihati. Sebab, tahapan ini sangat sulit dan banyak mengandung bahaya, dikarenakan 

berada di antara dua jurang yang menakutkan dan mematikan, yakni merasa aman 

dari murka Allah dan putus asa. 

Dan raja' serta khauf berada di antara kedua itu. Jika seseorang hanya 

mementingkan raja', niscaya akan jatuh ke jurang "merasa aman dari murka Allah". 

Sedangkan orang-orang yang tidak takut kepada Allah, hanyalah orang-orang yang 

merugi. Dan jika hanya mementingkan khauf, niscaya ia akan jatuh ke jurang "putus 

asa", dan hanya orang kafir-lah yang berputus asa dari rahmat Allah. 

Jalan yang paling lurus adalah menghimpun raja' dan khauf. Jalan yang itempuh 

para wali Allah dan orang-orang pilihan, seperti yang disebutkan dalam sebuah ayat: 

.... Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu 

bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan 

mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka 

adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami tal-Anbiya' : 90). 

Dengan begitu, tahapan ini terdapat tiga jalan: 

1. Merasa aman dan berani. 

2. Berputus asa. 

3. Khau! dan raja '. 

Jika seseorang terpeleset dari salah satunya, celakalah ia. Adapun orang yang 

senantiasa mengingat Allah, luas rahmat-Nya, karunia-Nya, kasih sayang-Nya, ia 

akan merasa aman dari murka Allah. 

Dan akan hilang raja' seseorang manakala ia hanya mengingat bahwa Allah 

Mahakuasa, Maha Mengatur, serta sangat teliti menghisab wali-wali-Nya dan orangorang pilihan-Nya. 

Maka, hendaknya melaksanakan keduanya, mengharapkan rahmat Allah. 

Sebab, ibadah kita sangatlah sedikit, sedangkan kita takut akan siksa-Nya, karena 

Allah Mahakuasa. Memang, untuk menempuh jalan ini cukup sukar, tetapi inilah 

jalan yang paling selamat dan nyata. Jalan ini membawa kita kepada ampunan dan 

ihsan. 

... sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut 

dan harap.... (al-Anbiya': 90). 

Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk 

mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan 

pandangan mata sebalfai balasan terhadap apa yang telah mereka 




kerjakan. (as-Saidah : 17) . 

Rasulullah SAW, bersabda Allah telah berfirman: 

Allah. Tabaraka wa Ta'ala mengatakan "Aku sudah menyediakan 

untuk hamba-Ku yang saleh apa saja yang tidak bisa dilihat (selama) 

di dunia, dan tidak bisa didengar (selama) di dunia, dan tidak 

terbayang oleh bati mereka". 

Perhatikan baik-baik keterangan di atas. Kemudian, bersiap- siaplah menempuh 

jalan baik ini, meskipun sukar. Sebab, jalan ini tidak bisa ditempuh dengan mudah. 

Tidak akan tercapai tujuan tersebut, kecuali senantiasa memperhatikan hal 

yang tiga di atas, dan memperhatIkan hal- hal di bawah ini: 

1. Memperhatikan perintah dan larangan Allah. 

2. Memperhatikan af’al Allah dalam hal beri balasan dengan siksa, dan dalam 

memaafkan. 

3. Memperhatikan balasan Allah pada hari kiamat kelak, berupa pahala bagi 

yang taat, dan Siksa bagi yang berbuat maksiat. 

Jika para pembaca menginginkan rincian dan penjelasan secara panjang lebar 

mengenai ketiga 'pokok ini,. bacalah buku penyusun yang lain, yakni buku Tanbibul 

Ghafilin. Sedangkan dalam Kitab "Minhajul 'Abidin" ini, penyusun hanya 

akanmemberikan keterangan sekadarnya, yang sekiranya dapat membawa kepada 

tujuan. Insya Allah. 

Pokok pertama: 

Firman Allah mengenai perintah berbuat baik dan larangan berbuat maksiat: 

'" janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah .... (azZumar : 53). 

Ayat ini turun dikarenakan adanya beberapa orang yang telah banyak 

melakukan kejahatan, pembunuhan, berzina, dan menumpuk perbuatan haram. 

Mereka itu datang kepada Rasulullah SAW. dan berkata, "Ya Muhammad, j ika 

dalam agama yang engkau bawa terdapat keterangan mengenai penghapusan dosa 

yang telah kami perbuat, alangkah baiknya." 

Maka, turunlah ayat yang menerangkan bahwa orang-orang yang telah 

melakukan banyak dosa tetapi kemudian bertaubat, sehingga tidak sampai musyrik, 

maka mereka akan diampuni dan dijadikan orang baik. Kemudian turunlah ayat 

berikut ini: 

Katakanlah, "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas 




terhadap diri mereka sendiri, :ianganlah kamu berputus asa dari 

rahmat Allah .... (az-Zumar : 53). 

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Rasulullah SAW. mengajak Wahsyi masuk Islam. 

Maka ia menjawab, "Bagaimana aku dapat masuk Islam, sedangkan dalam agamamu 

menerangkan bahwa siapa saja yang membunuh, musyrik, atau berzina, maka ia 

akan mendapatkan siksa berlipat ganda. Padahal aku telah mengerjakan semua itu." 

Kemudian turun ayat berikut:

... kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh .... (al-Furqan : 70). 

Wahsyi menjawab, "Ini syarat berat yang mungkin-aku tidak mampu 

melaksanakannya. Adakah selain itu?" 

Maka turun ayat berikut: 

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia 

mengampuni segala dosa yang selain dari (syrik) itu, bagi siapa yang 

dikehendaki-Nya .... (an-Nisa: 48). 

Kata Wahsyi, "Sekarang aku menjadi ragu. Dapatkah dosaku yang banyak itu 

diampuni?" 

Dan turunlah ayat berikut: 

Katakanlah, "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas 

terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari 

rahmat Allah .... (az-Zumar : 53). 

Kata Wahsyi, "Inilah yang aku tunggu." Maka ia pun masuk Islam!. 

Syaikhani dari Abu Sa'id al-Khudry meriwayatkan bahwa Nabi SAW. 

menerangkan: 

Ada seorang Bani Israil telah membunuh se banyak sembilanpuluh sembilan 

kali. Kemudian ia bertanya kepada seorang pendeta "Apakah dosaku dapat 

diampuni?" Jawab pendeta, "Tidak 'bisa, karena dosamu terlalu banyak!" Maka 

pendeta itu pun ia bunuh. Berarti genap sudah ia membunuh seratus jiwa! 

Kemudian ia bertanya, di mana terdapat orang yang lebih pintar. Kemudian ia 

diantarkan kepada seorang alim. Lantas ia bertanya seperti pertanyaan tadi. Jawab 

orang alim, "Tentu saja kau diampuni. Tidak ada sesuatu pun yang menghalangi 

taubatmu. " Kata orang alim selanjutnya, "Kini pergilah engkau ke suatu negeri, di 

mana· terdapat orang-orang yang sedang beribadah kepada Allah. Ikutilah mereka, 

dan jangan kembali ke tempat asalmu. Sebab, di sana banyak kejahatan." 




Berangkatlah orang itu' ke negeri yang dimaksudkan oleh orang alim tersebut. 

Tetapi, di tengah perjalanan, orang itu meninggal. Lalu datanglah dua malaikat, 

malaikat rahmat dan malaikat adzab. 

Malaikat adzab berkata, "Ini tugasku, karena orang ini banyak berbuat 

maksiat." 

Malaikat rahmat menyahut, "Memang benar, tetapi ia telah bertaubat dan 

akan beribadah pada negeri yang dituju." 

Kata malaikat adzab, "Hal itu benar, tetapi ia belum sampai ke tujuan dan 

belum melaksanakannya." 

Pada saat mereka berdebat sengit, datanglah Malaikat membawa perintah agar 

perjalanannya diukur. Setelah diukur, ternyata ia lebih dekat ke tempat tujuan, 

dengan perbedaan hanya satu jengkal. Maka, masuklah ia dalam urusan malaikat 

rahmat, yakni termasuk golongan orang baik. 

Ayat-ayat tentang raja' (harapan): 

......Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya .... 

(az-Zumar : 53). 

.....dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada 

Allah .... ? (Ali Imran: 135). 

Yang mengampuni dosa. dan Menerima taubat.,.. (al-Mu'min : 

3). 

Dan Dia-lah yang menerima taubat dari hamba-hambat-Nya dan 

memaafkan kesaLahan-kesalahan.... (asy-Syura : 25). 

......Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang .... 

(al-An'am : 54).

.....dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu .... (aL-A'raf : 

156) 

......Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang 

yang bertakwa .... (al-A’raf : 156). 

......Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih Lagi Maha 

Penyayang kepada manusia .... (al-Hajj : 65). 

Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang 

beriman. (al-Ahzab : 43). 

Itulah beberapa ayat mengenai raja'. Sedangkan ayat-ayat mengenai khauf di 

antaranya sebaga! berikut: 

Maka bertakwalah kepada-Ku, hai hamba-hamba-Ku. (azZumar:16).




Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami 

menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak 

akan dikembalikan kepada Kami? (al-Mu'minun : 115). 

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja 

(tanpa pertanggungjawaban)? (al-Qiyamah : 36). 

(Pahala dari Allah itu) bukanlah menurut angan-anganmu yang 

kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa 

yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan 

kejabatan itu, dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) 

penolong baginya selain dari Allah (an-Nisa': 123) 

......sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat 

sebaik-baiknya. (al-Kahfi : 104). 

... Dan jelaslah bagi mereka- adzab dari Allah yang belum 

pernah mereka perkirakan. (az-Zumar : 47). 

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami 

jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (al-Furqan :

23). 

Dan ayat-ayat yang menggabungkan kbauf dan raja' di antaranya firman Allah 

dalam surat al-Hijr. 

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya 

Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Hijr: 49), 

Kemudian, Allah mengiringi ayat itu dengan ayat-ayat lain: 

.....dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang 

sangat pedih. (al-Hijr : 50). 

Demikianlah urutan ayat itu, hendaknya kita tidak cenderung hanya kepada 

raja', akan tetapi harus disertai kbauf. 

Selanjutnya firman Allah dalam surat al-Mu 'min: 

.....Maha keras hukuman-Nya. (al-Mu'min : 22). 

Lalu diiringi dengan ayat: 

.....Yang mempunyai karunia; tiada Tuhan selain Dia..... (alMu'min : 3)

Ayat itu mengisyaratkan, agar kita tidak hanya cenderung kepada khauf, tetapi 

harus pula disertai raja'. 

Dan yang paling mengharukan adalah firman Allah dalam surat Ali Imran: 

.....Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya 

.... (Ali Imran: 28). 

Diteruskan dengan firman-Nya: 




Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hambaNya..... (Ali Imran: 30). 

Yang lebih mengharukan lagi, firman Allah dalam surat Qaf: 

(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah 

sedang Dia tidak kelihatan (olehnya). ... (Qaf: 33). 

Perlu diperhatikan, bahwa Allah mengucapkan ucapan takut dengan ucapan 

Maha Pengasih, bukan dengan ucapan Yang Mahagagah atau Yang Maha Membalas, 

dan sebagainya. 

Hal Itu merupakan pertanda, agar perasaan takut disertai dengan harapan. Dan 

perasaan takut itu jangan sampai menghilangkan harapan. 

Maka, hubungan khasyiya dengan ar-Rahman menimbulkan perasaan takut 

sambil menenteramkan hati, serta perasaan gerak sambil menenangkan Jiwa. 

Seperti misalnya apakah engkau tidak takut kepada Ibumu yang menyayangimu? 

Apakah engkau tidak takut kepada raja yang sedang murka? 

Maksud ucapan itu adalah agar seseorang tetap berjalan pada Jalan yang lurus, 

tidak terpeleset ke dalam rasa "aman" (tidak takut) atau "putus asa". 

Semoga Allah menjernihkan pikiran kita, sehingga kita bisa mengambil hikmah 

ayat-ayat tersebut dan dapat mengamalkannya. Sesungguhnya Allah Maha Pemberi 

dan Maha Pemurah. Tiada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah Yang Mahaagung . 

Pokok kedua: 

Senantiasa mengingat dan memperhatikan af’al (pekerjaan) dan mu'amalahNya (perlakuan-Nya). 

Mengingat Allah menimbulkan perasaan takut. Misalnya terhadap iblis. Bahwa 

iblis telah beribadah kepada Allah selama delapanpuluh ribu tahun. Mereka tidak 

meninggalkan sejengkal pun dari tempatnya, sebelum bersujud di tempat itu. 

Kemudian, mereka enggan melaksanakan satu pun perintah Allah, karena

menghormati Nabi Adam as. Sehingga, karena sikap dan bantahannya itu mereka 

diusir dari surga oleh Allah SWT. Dan ibadahhnya yang delapanpuluh ribu tahun itu 

dilemparkan kembali ke muka mereka, serta dijauhkan dari rahmat Allah untuk 

selama-lamanya hingga tiba hari pembalasan. Bahkan, tersedia untuk mereka siksa 

yang teramat berat untuk selama-Iamanya. 

Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW. pernah melihat Malaikat Jibril as. 

bergelanyut pada kelambu Ka'bah sambil menangis dan berdoa, "Ya Allah, ya 




Tuhanku. Janganlah namaku dirubah dan jangan pula jasadku ditukar." 

Dan kita masih ingat, apa yang terjadi pada diri Nabi Adam as'. yang 

mendapatkan julukan Safitullah dan Nabiyulah, yang diciptakan dengan qudrat 

Allah. Dan Allah memerintahkan kepada para malaikat agar menghormatinya serta 

memanggul mereka untuk dibawa ke surga.

Tetapi, sekali saja memakan buah yang dilarang Allah, akhirnya beliau tidak 

diperkenankan lagi berdiam di dalam surga. Kemudian, Allah memerintahkan para 

malaikat agar mengiring kepergian Nabi Adam ke langit sampai bumi. 

Maka, menangislah Nabi Adam selama duaratus tahun. Beliau menyesali dan 

merasakan kehinaan, kepayahan serta ujian Allah di dunia ini. Dan hal semacam itu 

bakal dialami oleh anak-cucu Adam. 

Juga riwayat Nabi Nuh as. yang mendapatkan perlakuan buruk dari kaumnya. 

Tetapi, demi perjuangan agama, beliau hadapi semua itu dengan penuh kesabaran. 

Kemudian beliau mendapatkan teguran dari Allah SWT., yakni tatkala Nabi Nuh 

berkata, "Anak itu keluargaku," yaitu ketika beliau hendak menggapai anaknya yang 

tenggelam karena ingkar kepada syari'at (agama) yang dibawanya. 

Maka, Allah berfirman, "Jangan engkau meminta apa-apa yang tngkau tidak 

tahu urusannya." 

Menurut riwayat, atas kesalahan ucapannya itu, Nabi Nuh tidak berani 

menengadahkan muka selama empatpuluh tahun, karena malu kepada Allah SWT. 

Kita masih ingat pula, peristiwa yang menimpa Nabi Ibrahim as. yang 

mengatakan, "Aku tidak menginginkan apaapa lagi selain ampunan Allah," disertai 

perasaan takut yang mendalam, dikarenakan kesalahannya memintakan ampunan 

bagi ayahnya yang berlainan agama. 

Dalam riwayat disebutkan, atas kesalahannya itu beliau tidak henti-hentinya 

menangis dikarenakan takut kepada Allah. Hingga datang Malaikat Jibril membawa 

wahyu, "Wahai Ibrahim. Apakah tuan pernah menyaksikan seseorang menyiksa 

kekasihnya dengan api?" 

Jawab Nabi Ibrahim, "Aku hanya mengingat kesalahanku." 

Sejak itulah beliau berhenti menangis. 

Kita juga masih ingat peristiwa yang dialami Nabi Musa as. Beliau merasa 

sangat takut dan tidak henti-hentinya mengatakan: 

"Ya Allah, aku telah berlaku zhalim, maka ampunilah aku. 




Hal itu hanya dikarenakan satu kesalahan, yakni menampar salah seorang 

pengikut Fir'aun yang sedang berkelahi dengan pengikutnya. 

Kemudian, kita masih ingat pula kejadian yang dialami Bal'am bin Baura pada 

masa Nabi Musa, as. Oleh Allah ia dianugerahi ilmu, kelebihan dan keistimewaan. 

Sehingga, dapat mengetahui kitab-kitab zaman terdahulu, dapat mengamalkan 

petunjuk-petunjuk eara menasarufkan lsmul Azham, sehingga bila ia memandang 

ke atas, tembus 'Arasy. Selam Itu, doanya selalu dikabulkan saat itu juga. 

Tetapi, ilmu dan kemanjurannya akhirnya dilucuti oleh Allah lantaran ia 

cenderung mementingkan urusan keduniaan. Sehingga ia mirip seekor anjing, 

lidahnya selalu terjulur keluar. 

Bal'am, meskipun telah mendapatkan keistimewaan dari Allah, tetapi masih 

tergoda pemberian seseorang yang bermaksud menghasudnya agar mendoakan 

Nabi Musa as. supaya tidak memasuki negaranya. 

Kisahnya, pada suatu saat, Nabi Musa as. memerangi kaum kafir hingga 

melewati negeri Kan'an, negeri Bal'am. Maka, penduduk Kan'an menghadap Bal'am 

dan memintanya untuk. berdoa agar Nabi Musa as. tidak sampai memasuki 

negerinya. Dengan alasan, Musa adalah seorang Nabi yang keras yang 

memungkinkan mereka akan terusir dan negerinya atau akan tertumpas semuanya. 

Jawab Bal'am, "Kamu semua ngacau, Musa adalah NabiyulIah. Beliau datang 

disertai para malaIkat dan orang-orang beriman, dengan tujuan menumpas kaum 

zhalim, kafir dan jahat. Jika aku mendoakannya, niscaya aku merugi dunia dan 

akhirat. "

Memang, pada mulanya permintaan mereka ditolak mentah-mentah. Namun, 

mereka datang untuk kedua kalinya dengan merengek-rengek agar Bal'am 

meluluskan permintaan mereka. 

Maka Jawab Bal'am, "Sudah aku katakan, tidak bisa!, Tetapi kalian terus 

mendesakku. Maka tunggulah, aku akan bermunajat kepada Allah." 

Kemudian, pada malamnya ia bermimpi bahwa Allah melarangnya melakukan 

perbuatan itu. 

Dua kali sudah mereka ditolak. Dan pada permintaan ketiga, mereka datang

sambil membawa hadiah yang sangat banyak. Setelah menerima hadiah itu, Bal am 

berkata, ”Aku akan meminta lagi petunjuk Allah." Akan tetapi, ternyata pada malam 

harinya ia tidak mendapatkan petunjuk apa pun. 




Berkatalah kaum itu, "Nah, itu suatu pertanda bahwa Allah tidak melarang lagi. 

Sebab-jika Allah melarang, pasti ada tanda-tanda seperti pada malam pertama. "

Kaum itu terus menerus membujuk dan merayunya. Hingga Bal’am kehabisan 

akal. Kemudian, dengan menunggang unta, Bal’am pergi ke suatu bangunan guna 

melihat balatentara Nabi Musa, dan terus berdoa agar Nabi Musa tidak memasuki 

negeri Kan'an. Namun, baru beberapa langkah, unta tunggangan Bal'am terkulai dan 

tidak bisa bangkit. Maka, Bal'am turun dari punggung unta dan memukulinya. 

Dengan terpaksa, unta tersebut berusaha. bangkit dan berjalan. Akan tetapi, baru 

beberapa langkah, unta itu lagi-lagi terkulai dan tidak dapat melanjutkan perjalanan. 

Dan untuk kedua kalinya, Bal'am turun sambil memukulinya. 

Dengan kehendak Allah, unta itu secara mendadak dapat berbicara kepada 

majikannya, "Wahai Bal'am, celakalah kamu! Hendak kemana engkau, apakah 

engkau tidak melihat bahwa para malaikat menghalangiku hingga aku tidak bisa 

berjalan." 

Beberapa saat kemudian, unta itu bisa bangun dan meneruskan perjalanan. 

Sesampainya di puncak gunung Hisan, Bal'am dan kaumnya pun bersiap-siap untuk 

berdoa. 

Maka Bal'am memulai doanya. Tetapi aneh sekali, doa yang ditujukan untuk 

Nabi Musa dan kaumnya selalu berbalik untuk kaumnya. Setiap doa untuk 

keburukan, kelemahan, dan kebinasaan Nabi Musa dan pengikutnya selalu berbalik 

bagi kaumnya. Dan doa untuk kebaikan kaum Bal'am selalu terpeleset justru untuk 

kebaikan Nabi Musa dan kaumnya. 

Ketika kaum Bal'am memprotes ucapannya, Bal'am menjawab. "Ini di luar 

kekuasaanku. Aku bermaksud mendoakan kalian, tetapi sungguh aneh, aku tidak 

kuasa mengendalikan lidahku. Dengan demikian, nyatalah sudah aku merugi duniaakhirat. Sekarang, kita harus menggunakan cara yang paling baik, yakni 

mengumpulkan wanita-wanita cantik yang dihiasi dengan perhiasan indah. 

Selanjutnya, perintahkan mereka, membawa barang dagangan kepada rombongan 

Nabi Musa as., dengan dibekali pesan jika ada di antara pengikut Nabi Musa 

mengajak berzina, hendaknya mereka (para wanita) tidak menolak ajakan itu, 

Dengan demikian, Jika hal Itu terjadi, berarti berhasil keinginan kalian." 

Kemudian, kaum Bal'am menjalankan taktik yang dikemukakan Bal'am itu 

dengan penuh kesungguhan. Di antara pengikut Nabi Musa ada yang bernama 

Zamry bin Syalam. Ketika ia melihat salah seorang wanita kaum Kan'an (pengikut 




Bal'am) bernama Kasty binti Swur menawarkan dagangannya, Zamry tidak kuasa 

menahan birahinya. Maka ia memegang tangan Kasty, yang kemudian ia tuntun ke 

suatu tempat. Ternyata Kasty menuruti segala kemauan Zamry, hingga tak pelak lagi 

mereka melakukan hubungan intim ... , ya, mereka telah berzina! 

Maka, saat itu juga Allah. menimpakan penyakit tha'un kepada laskar itu, 

hingga jumlah yang gugur saat Itu mencapai puluhan ribu orang. 

Semua itu berpangkal dari Bal'am. Sehingga Allah. mencabut segala ilmu dan 

keistimewaan yang ada pada dirinya, yang mengakibatkan ia tersesat dan binasa. 

Padahal dahulu, dalam sekali mengajar tidak kurang dari duabelas ribu mund 

mengikutinya. Tetapi, untuk pertama kalinya la mengatakan dalam karangannya 

bahwa alam ini tidak ada yang menciptakan (menjadikan), ia kehilangan massa. 

Kita bermohon kepada Allah, semoga Allah menjauhkan kita dari murka dan 

siksa-Nya yang amat pedih dan menghinakan. 

Dan penting pula kita perhatikan, betapa kejinya godaan dunia, terlebih lagi 

terhadap para ulama. 

Mudah-mudahan Allah menjadikan amal kita sebagai suatu kebaikan, dan 

menghapuskan segala kesalahan kita. Karena, yang demikian itu bukan merupakan 

kesulitan bagi Allah 'Azza wa Jalla. 

Selain kisah-kisah tersebut, kita masih ingat pula kisah Nabi Daud as. yang 

mendapatkan gelar Khalifatullah, dikarenakan satu kesalahan. Beliau menangis 

menyesali kesalahannya, hingga tanah tempat cucuran air matanya ditumbuhi 

rerumputan. Beliau sangat takut kepada Allah dan selalu berdoa "Ya Allah, 

kasihanilah aku dengan tangis dan kerendahan hatiku." 

Maka Allah berfirman, "Wahai Daud, engkau menyebut-nyebut air mata. 

Lupakah engkau akan kesalahanmu?"

Maka, Nabi Daud bertaubat selama empat puluh hari. 

Kita masih ingat pula kejadian yang menimpa Nabi Yunus as. Dikarenakan satu 

kali marah, beliau ditahan dalam perut Ikan. hiu selama empat puluh hari. Tetapi, 

beliau tidak henti-hentinya membaca doa. "Tiada Tuhan selain Engkau, Mahasuci 

Engkau ya Allah. Dan aku ini termasuk orang zhalim."

Doa tersebut ternyata didengar oleh para malaikat. Sehingga, mereka berkata, 

"Ya Allah Tuhan kami, ini suara yang tidak kami ketahui asalnya." 

Maka Allah berfirman, "Ino! suara hamba-Ku, Yunus." 




Maka, para malailat memohon keselamatan bagi Nabi Yunus as: Sehingga Nabi 

Yunus selamat. 

ABah berfirman, "Sekiranya Yunus tidak membaca tasbih niscaya ia akan tetap 

berada pada perut ikan hiu hingga hari kiamat. " 

Hendaknya kita perhatikan kisah-kisah tersebut, hingga peristiwa yang dialami 

Nabi Muhammad SAW. 

Allah berfirman: 

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana 

diperintahkan kepadamu .... (Hud : 112). 

Demikian pula jika bertaubat, hendaknya kita tidak berlebih-lebihan dan

melampaui batas. Karena, sesungguhnya Allah mengetahui segala perbuatan kita. 

Nabi Muhammad SAW. bersabda: 

Surat Hud dan sebangsanya menjadikan aku berubah. Allah 

Ta'ala berfirman: 

... dan mohonlah ampunan untuk dosamu .... (al-Mu 'min: 55). 

Dan Firman Allah: 

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan 

yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap 

dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. ... (al-Fath: 1-2). 

Setelah turun ayat-ayat itu, Rasulullah SAW., memperbanyak shalat malam 

hingga kakinya bengkak. Maka, berkatalah para sahabat, "Ya Rasulullah, mengapa 

sampai demikian. Padahal, Allah telah mengampuni dosa tuan yang terdahulu dan 

yang akan datang jika sekiranya ada.”

Jawab Rasulullah, "Meskipun demikian, tidak ada salahnya aku 

mengerjakannya sebagai tanda syukurku kepada Allah”. Selanjutnya, Rasulullah 

SAW. bersabda, "Jika sekiranya aku dan Nabi Isa berdosa dengan dua jari saja, 

niscaya kami diberi siksa lebih keras daripada siksa orang lain." 

Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah, jika mengerjakan shalat malam selalu 

menangis. Dan dalam sujudnya membaca: 

Ya Allah, aku berlindung dari siksa-Mu dan memohon ampunanMu. Aku berlindung dari murka-Mu ya Allah. Aku tidak akan mampu 

memuji-Mu dengan sempurna, karena kemuliaan-Mu tidak ada 

batasnya. 

Selain itu, perhatikan pula para sahabat Rasulullah yang mencapai derajat 

terbaik, umat terbaik, pada masa terbaik pula. 




Pada suatu saat, Rasulullah bercanda dengan para sahabatnya. Maka, turunlah 

kepada beliau sebuah ayat: 

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, 

untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.... (al-Hadid: 16). 

Dalam kedudukannya, umat Muhammad merupakan umat y.ang penuh kasih 

sayang. Maka, Allah menetapkan batas, Siasat, dan adab. 

Kita memohon, semoga Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi 

memberikan perlakuan dan karam-Nya, karena sesungguhnya Allah Maha 

Penyayang. 

Jika mengingat af’al Allah dari sudut raja', maka akan kita sadari betapa besar 

rahmat Allah, dan tidak seorang pun mengetahui ujungnya, sifat-Nya, dan 

penghabisannya. Dan sesungguhnya Allah-lah yang menghapuskan segala 

kekufuran. 

Allah berfirman: 

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, "Jika mere ka 

berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka 

tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu .... (al-Anfal: 38). 

Kita masih ingat, orang-orang kafir dan tukang sihir Fir'aun bertujuan hendak 

memerangi Allah dengan segala sumpahserapahnya dengan mengatasnamakan 

kegagahan Fir'aun, musuh Allah. Tetapi setelah menyaksikan mu'jizat Nabi Musa, 

mereka kemudian mengetahui suatu kebenaran. Lantas, mereka berucap, "Kami 

beriman kepada Tuhan seru sekalian alam," tanpa tambahan amal. 

Perlu kita perhatikan pula, mereka (tukang sihir) pendapat pujian Allah dalam 

al-Qur'an. Dan dosa-dosa mereka dihapuskan oleh Allah, meski hanya dengan iman 

sesaat, bahkan hanya dengan iman beberapa detik. Bahkan. Hanya dengan ucapan 

"Kami beriman kepada Tuhan seru sekahan alam”, yang diucapkannya dengan 

kesungguhan hati. Selanjutnya, mereka dijadikan pemimpin orang-orang syahid di 

surga yang kekal kelak. 

Demikian pula orang-orang yang ma'rifat dan bertauhid kepada Allah SWT., 

pada suatu saat dapat berubah. Meskipun tadinya seorang tukang sihir, kufur, dan 

pembuat kerusakan. Maka, betapa bahagia dan mulianya orang-orang yang 

menghabiskan umurnya untuk bertauhid kepada Allah, pilihan yang sangat tepat 

dunia-akhirat. 

Demikian pula kejadian yang menimpa kaum Ashabul Kahfi, ketika mereka




menghadap raja Daqyanus, seorang raja kafir nan keji terhadap orang-orang yang 

tidak sudi menyembah berhala. Maka, pemuda-pemuda Ashabul Kahfi mengatakan 

bahwa Tuhannya adalah Allah, yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya. 

Mereka menyatakan pula tidak akan menyembah Tuhan selain Allah, dan berlindung 

hanya kepada Allah. 

Perhatikanlah, bagaimana pemeliharaan Allah, menguatkan dan memuliakan 

mereka, dengan firman-Nya: "Aku bolak balikkan badan mereka, ke kanan dan ke 

kiri." Selain itu, Allah memberikan penghormatan dan memuji mereka, sehingga 

Allah berfirman kepada Rasulullah SAW., "Wahai Muhammad, jika engkau melihat 

mereka, niscaya engkau lari lantaran terharu. "

Selanjutnya, bagaimana Allah memuliakan anjing mereka, melalui beberapa 

ayat al-Qur'an. Kemudian Allah melindunginya di dunia dan kelak, bersama 

majikannya (kaum Ashabul Kahfi) yang akan dimasukkan ke surga. 

Begitulah karunia Allah kepada anjing, yang disebabkan hanya karena 

mengikuti kaum Asbabul Kahfi beberapa langka? Anjing itu mengikuti kaum Asbabul 

Kahfi dalam bertauhid kepada Allah. Sungguh besar karunia Allah yang dilimpahkan 

kepada hamba-hamba-Nya yang bertauhid.

Sebagaimana kita lihat, bagaimana Allah menyalahkan Nabi Ibrahim, lantaran 

berdoa untuk kecelakaan orang yang berbuat dosa. Juga, bagaimana Allah 

menyalahkan Nabi Musa as. dalam urusan Qarun. 

Allah SWT. berfirman, "Qarun minta tolong kepadamu, ya Musa. Tetapi engkau 

tidak memberikan pertolongan kepadanya. Demi kemuliaan dan kekuasaan-Ku, 

seandainya ia meminta tolong kepada-Ku, niscaya Aku akan menolong dan 

memaafkannya."

Renungkan pula, bagaimana Allah menyalahkan Nabi Yunus as. sehubungan 

dengan kaumnya. 

Allah berfirman: 

Kamu merasa susah lantaran sebuah pohon dari pohon labu yang

Aku jadikan dalam satu waktu, dan Aku jadikan menjadi kering pada 

satu waktu (pula). Namun, kamu tidak merasa bersedih atas seratus 

ribu orang (pengikut) atau lebih. 

Juga, bagaimana Allah akan menerima udzur mereka dan tidak memberikan 

siksa yang pedih. Oleh karenanya, Allah menyesatkan mereka. 

Selanjutnya, bagaimana Allah menyalahkan Rasulullah SAW. Diriwayatkan,




pada suatu saat Rasulullah SAW. memasuki Masjidil Haram dari pintu Bani Syaibah. 

Kemudian, beliau melihat sekelompok orang tertawa bersuka ria. Maka, berkatalah 

Rasulullah SAW., "Mengapa kalian tertawa, mudah-mudahan aku tidak melihat lagi 

engkau tertawa."

Sesampainya di Hajar Aswad, Rasulullah SAW. kembali kepada mereka seraya 

berkata, "Telah datang kepada-Ku Jibril, ia berkata kepadaku, 'Ya Muhammad, Allah 

berfirman kepadamu: 

Mengapa kamu membuat sikap putus asa hamba-hamba-Ku dari 

rahmat-Ku? Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku,

bahwa 

sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 

Kemudian Rasulullah SAW. bersabda: 

Kasih Allah terhadap hamba-Nya yang Mu 'min melebihi kasih 

seorang ibu terhadap anaknya. 

Dalam satu hadits Rasulullah SAW. mengatakan, "Allah mempunyai seratus 

rahmat. Satu persen dari keseluruhan dibagikan kepada jin dan manusia serta 

binatang. Dengan rahmat yang satu persen itu mereka saling menyayangi. Sedangkan rahmat yang sembilanpuluh sembilan persen disimpan Allah guna diberikan 

kepada hamba-hamba-Nya pada hari kiamat kelak." 

Pemberian Allah yang satu persen itu merupakan pemberian yang sangat mulia 

dan berharga, yaitu ma'rifat kepada Allah SWT. dan menjadi pengikut Muhammad 

yang dirahmati, yang ber-i'tikad menjadi Ahli Sunnah wal Jama'ah, dan segala 

kenikmatan lahir-batin. 

Semoga Allah menyempurnakan semua pemberian itu. Sebab Tuhan-lah yang 

memulai kebaikan, maka Tuhan-lah yang menyempurnakannya. Semoga kita 

mendapatkan bagian yang besar dari rahmat-Nya yang sembilan puluh persen itu. 

Pokok ketiga: 

Pokok ketiga membicarakan janji dan ancaman Allah yang akan berlaku pada 

hari kiamat. 

Sekarang, marilah kita renungkan lima hal berikut ini: yakni, maut, alam kubur, 

kiamat, surga, dan neraka. Juga maqam dan tiap-tiap bagiannya, yakni bahaya yang 

besar, baik bagi yang taat maupun yang berbuat maksiat, yang lalai maupun yang 

bersungguh-sungguh. 

Mengenai maut (ajal), akan penyusun ceritakan kisah dua orang laki-laki, yang 

diriwayatkan dari Ibnu Syabramah. Ia mengatakan, "Aku dengan Syaikh asy-Sya'bi 




menengok orang sakit. Aku melihat ia dalam keadaan payah (parah). Di sampingnya, 

ada seorang laki-laki menuntunnya mengucapkan la ilaha illallah wahdahu la syari 

kalah. Maka Syaikh Sya'bi berkata kepada orang yang mentalkinkan itu agar tidak 

terlalu keras mentalkinkannya. 

Kemudian si sakit berkata, "Sama saja, engkau mentalkinkanku atau tidak, aku 

selalu mengucapkan la ilaha illallah wahdahu la syari kalah." 

Selanjutnya ia membaca ayat ini: 

"dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan adalah 

mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya .... 

(al-Fath : 26). 

Maka berkatalah Syaikh Sya'bi, "Kita panjatkan syukur ke hadirat Allah SWT. 

yang telah menyelamatkan sahabat kita ini. "

Kisah lain menceritakan; salah seorang murid Imam Fudhail bin Iyadh, dalam 

keadaan sakratul maut. Kemudian al-Fudhail mendatanginya, kemudian duduk di 

dekat kepalanya seraya membaca surat Yasin. 

Maka, sang murid yang sedang dalam keadaan sakratul maut itu berkata, 

"Wahai guru, janganlah tuan membaca surat itu! "

Mendengar ucapan itu, diamlah al-Fudhail membaca surat Yasin. Kemudian 

berkata kepada muridnya itu, "Jika demikian bacalah la ilaha illallah. " ' 

Jawab sang murid, "Aku tidak akan mengucapkannya. Karena aku Sudah 

melepaskan diri dari ucapan itu."

Setelah berkata demikian, matilah ia. la mati dalam keadaan suul khatimah, 

meskipun ia murid Fudhail. 

Sesampai di rumah, al-Fudhail menangis selama empatpuluh hari. Ia tidak 

pernah keluar dari rumah. Kemudian pada satu tidurnya, al-Fudhail bermimpi 

muridnya sedang ditarik ke Neraka Jahanam. 

Imam Fudhail bertanya kepadanya, "mengapa Allah menghilangkan imanmu. 

Padahal, selama di dunia engkau adalah muridku yang paling alim."

Jawab sang murid, "Aku kehilangan iman karena tiga sebab: 

1. Aku suka mengadu domba/memfitnah. Aku mengatakan kepada temantemanku berlainan' dengan yang aku katakan kepada tuan. 

2. Aku mendengki dan iri hati terhadap teman-temanku. 




3. Ketika sakit, aku pergi ke dokter guna menanyakan penyakitku. Kemudian, 

dokter memberikan resep, agar aku meminum arak setiap tahun sebagai obat. 

Kata dokter, jika aku tidak meminumnya, penyakitku tidak akan sembuh. 

Karena itu aku meminum arak." 

Imam Ghazali berkata, "Kita berlindung kepada Allah dari Murka-Nya, yang kita 

tidak akan mampu menanggungnya."

Kini, akan penyusun ceritakan kisah dua orang laki-laki lain. Yang satu 

dikisahkan oleh Abdullah bin Mubarak, bahwa tatkala ajal sudah dekat, beliau 

menengadahkan mukanya ke langit. Maka tertawalah beliau sembari berkata, 

"Untuk ini, seharusnya orang beramal itu."

Selanjutnya, Imam Haramian ra. menceritakan tentang Ustadz Abu Bakar. 

Bahwa Ustadz Abu Bakar berkata, "Sewaktu mencari ilmu, aku mempunyai seorang 

kawan. Dia bersungguh dalam menuntut ilmu, bertakwa, dan beribadah. Namun 

begitu, hanya sedikit ilmu yang didapatnya. Hal itu membuat aku heran. 

Pada suatu hari ia jatuh sakit. Tetapi, ia tetap berada di tengah-tengah wali, di 

pesantren, tidak di rumah sakit. Meskipun dalam keadaan sakit, ia tetap 

bersungguh-sungguh dalam belajar. Tatkala aku duduk di dekatnya, tiba-tiba ia 

melihat langit seraya berkata kepadaku, "Wahai Ibnu Faruq, untuk inikah orangorang harus beramal, dan meninggal dalam keadaan seperti itu (maksudnya husnul 

khatimah)."

Kisah lainnya, diriwayatkan dari Malik bin Dinar ra. Suatu hari, ia menengok 

tetangganya yang sedang sakit, dan sudah dekat dengan ajalnya. Kemudian, si sakit 

itu berkata kepada Malik bin Dinar, "Ya Malik, di hadapanku kini terdapat gunung 

yang terbuat dari api, dan aku diperintahkan mendaki kedua gunung itu."

Berkatalah Malik bin Dinar, "Maka aku tanyakan kepada ahlinya, yakni istri dan 

anak-anaknya. Mereka menjawab, "Ia mempunyai dua sukatan (takaran). Jadi, 

dalam perniagaan ia menggunakan dua takaran, satu takaran untuk menjual, dan 

satunya lagi untuk membeli. " 

Kemudian, aku minta kedua takaran itu, dan aku benturkan satu dengan yang 

lain, hingga kedua takaran itu pecah. Selanjutnya aku tanyakan kepada si sakit itu. Ia 

menjawab, "Kepayahanku kini bertambah hebat." 

Mengenai alam kubur, akan penyusun ceritakan kisah tentang dua orang lakilaki. Satu di antaranya diceritakan oleh orang yang dapat dipercaya kebenarannya. 




Ia mengatakan, "Aku melihat Sufyan ats-Tsauri sehari sesudah ia meninggal 

(mungkin melihat dalam mimpi, pen). Maka, aku bertanya, 'Bagaimana keadaan 

tuan, wahai Abu Abdullah?' Beliau memalingkan muka sembari berkata, 'Ini bukan 

saatnya memanggil dengan menyebut Abu.' Selanjutnya aku bertanya, 'Bagaimana 

keadaanmu, wahai Sufyan?' Maka Imam Sufyan menjawab dengan memakai sebuah 

syair: 

Dengan jelas, aku melihat Tuhanku, kemudian Dia berfirman 

kepadaku, 'Beruntunglah engkau, wahai Sufyan bin Sa'id, karena 

engkau senang mendapatkan ridha-Ku. 

Selama di dunia, engkau sering bangun malam guna mengerjakan 

shalat, dengan airmata kerinduan dan kecintaan hati. 

Kini engkau boleh memilih, gedung-gedung megah atau berziarah 

kepada-Ku, karena Aku tidak jauh darimu." 

Laki-laki kedua diceritakan, bahwa sebagian orang melihatnya dalam mimpi. Ia 

dalam keadaan pucat, kedua tangannya dibelenggu dengan lehernya. Sehingga ada 

seseorang bertanya kepadanya, "Apa yang Allah lakukan terhadapmu?"

Ia menjawab dengan menggunakan syair: 

Zaman yang kami permainkan telah berlalu. Kini, zaman yang 

mempermainkan kami. 

Ada lagi kisah dua orang laki-laki. Seorang diriwayatkan dari seseorang shahih. 

Ia berkata, "Aku mempunyai seorang anak yang mati syahid, dan selama ini aku 

tidak melihatnya dalam mimpi. Hingga pada suatu malam, malam meninggalnya 

Umar bin Abdul Aziz ra, tiba-tiba aku melihat anakku. Kemudian, aku bertanya 

kepadanya, "Wahai anakku, bukankah engkau sudah mati?' Ia menjawab, "Tidak, 

aku tidak mati. Tetapi aku syahid, aku hidup pada sisi Allah, dan diberi rezeki."

Selanjutnya aku bertanya, "Mengapa kini engkau datang?' Jawabnya, 'Aku 

menyeru kepada segenap penghuni langit: 

Jangan seorang pun dari para Nabi dan wali atau syahid tidak hadir dalam 

menshalatkan Umar bin Abdul Aziz (beliau adalah seorang khalifah yang adil pada 

masa Bani Umayah). Maka, aku datang untuk men-shalat-kan beliau, selanjutnya 

aku mendatangi ayah dan keluarganya untuk bersalaman." 

Kisah kedua diriwayatkan oleh Hisyam bin Hasan. Beliau berkata, "Telah mati 

anakku yang masih belia. Akan tetapi dalam mimpi aku melihatnya telah beruban. 

Kemudian, aku tanyakan, 'Anakku, mengapa engkau beruban?' Jawabnya, 'Ketika 

anu datang kepadaku, jahanam itu mendengus dengan keras. Begitu keras 




napasnya, sehingga setiap orang yang mendengar menjadi beruban." 

Kita berlindung kepada Allah dari siksa dan adzab-Nya yang pedih. 

Mengenai kiamat, renungkanlah firman Allah Ta'ala: 

(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang 

takwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang 

terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke 

neraka jahannam dalam keadaan dahaga. (Maryam: 85-86), 

Terdapat seseorang keluar dari dalam kuburnya. Dengan tiba-tiba, Buraq telah 

berada di kepala kuburan itu, telah ada mahkota dan pakaian-pakaian indah. Maka 

ia mengenakan pakaian itu dan menunggang Buraq ke surga. Karena mulianya, ia 

tidak dibiarkan berjalan kaki menuju surga. 

Ada juga seseorang bangkit dari kuburnya, tiba-tiba Malaikat Zabaniyah 

(petugas neraka) telah berada di tempat itu sambil membawa belenggu dan rantai. 

Para malaikat Zabaniyah tidak membiarkan orang celaka itu berjalan kaki menuju 

neraka. Ia diseret dan dicampakkan di tengah-tengah neraka Jahim. 

Seorang ulama meriwayatkan hadits Rasulullah, bahwasanya Rasulullah SAW, 

berkata, "Jika hari kiamat telah tiba, keluarlah satu kaum dari kuburnya. Masingmasing memiliki kendaraan yang tidak ditunggangi orang lain.' Kendaraan itu 

bersayap, warnanya hijau. Kemudian, terbanglah kendaraan itu membawa mereka 

ke padang Mahsyar. Ketika sampai di pagar surga, malaikat akan saling bertanya, 

siapakah mereka? Maka malaikat yang lain akan menjawab, bahwa ia juga tidak 

mengetahui siapa mereka. Kemungkinan mereka adalah umat Muhammad. Lantas, 

seorang malaikat mendekati mereka dan bertanya, "Siapakah kalian, umat siapakah 

kalian?" 

Mereka menjawab, "Kami adalah umat Muhammad SAW." Malaikat bertanya, 

"Apakah kalian sudah dihisab?" 

Jawab mereka, "Tidak, kami tidak dihisab." 

Tanya Malaikat, "Apakah -kalian sudah ditimbang dalam mizan?" 

Jawab mereka, "Tidak!" 

Bertanya malaikat, "Apakah kalian telah membaca buku catatan amal kalian?" 

Mereka menjawab, "Tidak." 

Tanya malaikat pula, "Kembalilah kalian, Kalian harus dihisab dan ditimbang 

pula serta harus membaca catatan amal kalian! " 




Mereka pun menjawab, "Apakah tuan-tuan akan memberikan sesuatu kepada 

kami untuk dihisab?" (maksudnya, kami tidak mempunyai apa-apa untuk dihisab, 

pen). 

Dalam hadits lain, diriwayatkan, "Kami tidak mempunyai apa-apa. Kami adalah 

orang-orang fakir. Jika mempunyai sesuatu, tentunya kami dapat berbuat adil atau 

zhalim. Tetapi, kami, semata-mata hanya beribadah kepada Allah, hingga Allah 

memanggil kami, dan kami menerima ajakan Tuhan kami." 

Pada saat itu, ada seruan dari Allah, "Benar apa yang dikatakan hamba-Ku ini. 

Orang-orang yang berbuat' baik tidak berhak ditahan, sedangkan Aku Maha 

Pengampun lagi Maha Penyayang. " 

Juga firman Allah Ta'ala, "Manakah lebih baik, dilempar ke neraka, atau datang 

dengan aman pada hari kiamat?" 

Kita memohon kepada Allah Yang Mahaagung, semoga kita diJadikan orangorang yang berbahagia. Tidak sukar bagi Allah menjadIkan hal yang demikian.

Sekarang, mengenai surga dan neraka. Terdapat dua ayat mengenai surga dan 

neraka yang akan penyusun kemukakan Satu di antaranya adalah firman Allah 

Ta'ala'.

..... dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang 

bersih sesungguhnya ini adalah balasan untukmu dan usahamu adalah 

disyukuri (diberi balasan). (al-Insan: 21-22) 

Dan firman Allah dalam menceritakan keadaan sebagian manusia:

Ya. Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan 

kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada 

kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim, (alMu'minun : 107). 

Firman-Nya pula: 

Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu er. 

Cara dengan Aku. (al-Mu'minun : 108). 

Dalam hadits diriwayatkan, setelah mendengar firman Allah tersebut, mereka 

menjadi anjing dan saling menggonggong di dalam neraka. 

Kita berlindung kepada Allah Yang Maha Pengasih dari adzabNya yang teramat pedih. 

Yahya bin Mu'adz ar-Razi mengatakan, "Kita tidak mengetahui, mana lebih 

dekat antara dua musibah; luput dari surga atau masuk neraka."

Manusia tidak akan bersabar untuk masuk surga. Sedangkan di neraka, tiada 




seorang pun yang mampu (kuat) menanggung panasnya bara api. Tetapi 

bagaimanapun, tidak mendapatkan kenikmatan itu lebih ringan dibandingkan 

mendekam di dalam neraka Jahim. 

Adapun musibah yang paling berat dan hebat di dalam neraka adalah, bahwa 

keadaan di neraka langgeng atau kekal. Sebab, jika penderitaan neraka ada 

penghabisannya, tentu manusia masih mempunyai harapan. Tetapi pada kenyataannya, keadaan neraka adalah kekal, tak berpenghabisan, tak berakhir. Siapa pun tidak 

akan kuat menanggungnya. 

Sehubungan dengan itu, berkatalah Nabi Isa as., "Mengingat kekalnya 

seseorang bisa membuat seseorang penakut menjadi berputus asa."

Ada seseorang berbicara di dekat Hasan Bashri, bahwa yang paling akhir keluar 

dari neraka adalah orang yang bernama Hannaad. Ia disiksa dalam neraka selama 

seribu tahun. Kemudian, ia memanggil-manggil Tuhan, "Wahai Tuhan Yang Maha 

Pengasih, wahai Tuhan Yang Memberi Karunia." 

Menangislah Imam Hasan Bashri mendengarkan ucapan itu, seraya berkata, 

"Ingin sekali aku menjadi si Hannaad! " Kebanyakan orang terbengong-bengong 

keheranan. Mengapa ia menginginkan menjadi si Hannaad yang disiksa selama 

seribu tahun. 

Beliau menjawab, "Sungguh kasihan kamu, bukankah si Hannaad pada suatu 

saat akan keluar dari neraka?" 

Aku (Imam Ghazali) katakan, "Semua urusan ini kembali pada satu pokok, yakni 

mematahkan tulang-tulang punggung, membuat muka menjadi pucat, membuat 

hati hancur, menjadikan berputus asa, dan membuat menangis darah (yaitu dari 

para ahli ibadah). 

Pokok yang hebat ini yakni takut kehilangan iman. Inilah ujung pangkal 

takutnya orang-orang yang takut, dan itulah tangisnya orang-orang yang menangis." 

Salah seorang di antara mereka (ahli ibadah) mengatakan, "Kesusahan 

(kesedihan) itu ada tiga macam: 

1. Takut, jika taatnya tidak dikabulkan oleh Allah. 

2. Sedih dan takut kalau-kalau dosa-dosanya tidak diampuni. 

3. Sedih dan takut kalau-kalau ma'rifai atau imannya dihilangkan dari dirinya. 

Dan berkata orang-orang yang ikhlas, "Kesedihan yang besar itu sebenarnya 

hanya satu, yakni takut kehilangan iman. 




Adapun takut selain kehilangan iman, tidak begitu berat. Sebab, semuanya 

akan berakhir, tidak kekal di dalam neraka. Sedangkan yang kekal adalah jika 

seseorang tidak beriman. 

Sebuah berita sarnpai kepada penyusun, bahwa Yusuf bin Asbat berkata, 

"Pernah aku menemui Imam Sufyan atsTsauri. Beliau menangis semalam suntuk. 

Kemudian aku bertanya, 'Apakah Tuan menangis karena sedih, ingat akan dosadosa?" Selanjutnya Yusuf bin Asbat mengatakan, "Maka Imam ats-Tsauri mengambil 

jerami, seraya berkata, 'Dosa itu bagi Allah lebih ringan daripada jerami ini. Yang aku 

takutkan adalah jika Islam dihilangkan oleh Allah dari hatiku." 

Semoga Allah Yang Maha Pengasih tidak menguji kita dengan suatu musibah, 

dan dengan kemurahan nya semoga Allah menyempurnakan kita. Dan semoga Allah 

mencabut nyawa ketika kita tetap memeluk Islam dan iman. Sesungguhnya Allah 

Maha Pengasih. 

Jika ada yang bertanya, mana lebih baik menempuh khauf (takut) atau raja' 

(harapan)? Yang paling baik adalah menempuh keduanya. Sebab, ada orang 

mengatakan, "Barangsiapa terlalu besar pengharapannya (raja ') dikhawatirkan ia 

menjadi golongan Murji'an (menganggap bahwa dosa tidak mengandung bahaya), 

atau menjadi golongan harami (semua yang diharamkan boleh dilakukan) karena 

beranggapan semua dosanya bakal diampuni. 

Dan barangsiapa dikusai oleh rasa takut (khauf), tidak mempunyai harapan lagi. 

Yang ia punyai hanyalah rasa takut. Orang yang demikian dikhawatirkan menjadi 

golongan haruri (anggapan bahwa dosa merupakan bahaya yang menjadikan kekal 

di dalam neraka). 

Yang dimaksud di sini, hendaknya tidak hanya takut atau hanya 

berpengharapan, melainkan harus keduanya. Sebab pada hakikatnya harapan yang 

sejati tidak dapat dipisahkan dengan harapan yang tulus. Oleh karenanya, ada yang 

mengatakan bahwa harapan itu hanyalah bagi orang yang takut. Adapun yang tidak 

merasa takut, akan merasa aman. Sedangkan rasa takut itu hanyalah bagi orang 

yang berpengharapan sejati, bukan bagi orang yang putus asa.

Jadi, janganlah kita merasa aman (tidak takut) dan berputus asa. Harus ada 

khauf dan raja’

Jika seseorang dalam keadaan sehat atau kuat, maka yang lebih baik adalah 

memperbanyak khauf, sedangkan raja’ cukup sekedarnya. Tetapi, apabila dalam 

keadaan sakit dan lemah, apalagi jika sudah mendekati ajal, maka lebih baik 




memperbanyak raja’

Begitulah yang penyusun dengar dari Imam Ghazali. Adapun adapun yang 

menjadi sebab adalah adanya riwayat dari hadits Qudsi, bahwa Allah Ta’ala 

berfirman:

Aku beserta orang-orang yang berputus asa, dikarenakan takut kepada-Ku.

Sehingga dalam keadaan demikian, harus memperbanyak raja’. Dan dengan 

sebab khauf pada waktu lalu, yakni ketika fisik masih sehat dan kuat, maka Allah 

berfirman kepada mereka:

Janganlah kamu takut dan bersedih hati.

Memang benar, banyak hadits yang menganjurkan agar kita berbaik sangka 

terhadap Allah. Tetapi yang dimaksud disini adalah; kita harus berhati-hati dari 

berbuat maksiat kepada-Nya, takut akan siksa-Nya, dan harus berbakti kepada-Nya.

Perbedaan berharap dan menghayal: Berharap itumempunyai dasar, 

sedangkan menghayal tanpa dasar sama sekali. 

Renungkan sya'ir berikut ini: 

Kamu menginginkan selamat, tetapi enggan menelusuri jalan 

keselamatan. 

Sesungguhnya kapal tidak akan berlayar, bila berada di 

daratan. 

Sehubungan dengan hal itu, Rasulullah SAW. bersabda: 

Seseorang yang mempunyai pendirian adalah orang yang mau 

menghitung dirinya, kemudian beramal untuk bekal setelah mati. 

Sedangkan orang yang tidak mempunyai pendirian adalah orang yang 

lemah, suka menuruti hawa nafsu, kemudian berbayal kepada Allah 

SWT.

Dalam hal ini, Imam Hasan Bashri mengatakan, "Ada orang yang lengah karena

lamunannya, yakni berhayal akan mendapatkan ampunan, sehingga ia keluar dari 

dunia tanpa bekal apa pun, tanpa kebaikan barang sedikit pun." 

Orang-orang yang bersikap demikian berkata, "Aku berbaik sangka kepada 

Allah." 

Sebenarnya, perkataan itu bohong! Sebab, jika ia memang berbaik sangka 

kepada Allah, tentu amalan-amalannya baik. 

Selanjutnya Imam Hasan Bashri membaca ayat berikut: 

Barangsiapa berkeinginan menghadap Allah, haruslah beramal 




saleh. 

Kemudian membaca ayat berikut: 

Yang demikian itu dikarenakan kesalahanmu berprasangka 

kepada Allah, yang bakal mencelakakan dirimu. Maka kamu (orangorang yang suka berbayal) termasuk orang yang merugi.

Imam Ja'far Adhlabi' mengatakan. "Aku melihat Abu Maisarah, seorang ahli 

ibadah, tulang iganya tampak jelas lantaran kesungguhannya dalam beribadah. 

Sehingga aku. katakan, 'mudah-mudahan Allah merahmatimu, rahmat Tuhan Itu 

sangat luas.' 

Abu Maisarah geram seraya berkata, 'Apakah engkau melihat tanda-tanda pada 

diriku bahwa aku berputus asa dari rahmat Allah? Rahmat Allah itu dekat kepada 

orang baik. 

Jawab Imam Ja'far, 'Tetapi yang membuat aku menangis adalah perkataan 

beliau:

'Apabila para Rasul, wali abdal, para auliya , dan lainnya ber-ijtihad dalam 

beribadah dan taat, serta berhati-hati. terhadap perbuatan maksiat, namun mereka 

masih Juga terikat, yakni takut dan khawatir terhadap diri sendiri." 

Padahal para Nabi, wali dan lainnya sangat berbaik sangka kepada Allah. Hal itu 

terbukti dengan kesunguhan mereka dalam, beribadah. Di samping itu, mereka lebih 

mengetahui luasnya rahmat Allah, lebih mengetahui Kemurahan Alah. Dan mereka 

lebih mengetahui, bahwa berharap tanpa ijtihad hanyalah lamunan dan tipuan 

belaka. 

Kesimpulan: Kita harus senantiasa mengmgat luasnya rahmat Allah yang dapat 

mengalahkan murka-Nya. Selanjutnya menyadari bahwa kita termasuk umat 

Muhammad yang mendapatkan rahmat dart kemuliaan dari Allah. Kemudian, ia 

sadar betapa besarnya karunia Allah, begitu sempurna kemurahan Allah, dan Allah 

telah membuat Kitab Suci untuk kita. 

Setelah itu. mengingat segala kebaikan dan kemurahan Allah kepada kita, 

tanpa kita minta. Juga betapa sempurna-Nya Allah, Keagungan dan kekuasaan-Nya. 

Kemudian ingat betapa dahsyat murka-Nya, yang langit dan bumi tidak kuasa 

menahannya. 

Selanjutnya, menyadari segala dosa dan kesalahan kita. Sedangkan perintah 

Allah sangat banyak. Sehingga wajib bagi kita memperbanyak ibadah kepada-Nya. 

Sebab, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang nyata maupun yang gaib. 




Selain itu, ingatlah akan janji dan pahala-Nya yang tidak terhingga. Di samping 

itu ancaman dan siksa-Nya yang teramat pedih. 

Dengan begitu, kadang-kadang kita mengingat dan melihat Karunia-Nya, dan 

kadang-kadang memikirkan siksa-Nya. Suatu saat, kita menyadari betapa Allah itu 

Maha Penyayang dan Maha Pengasih, dan menyadari bahwa kita terlalu banyak berbuat dosa dan tidak tahu diri. 

Jika pikiran seseorang sudah demikian, maka ia akan bersungguh-sungguh 

dalam mencapai kbauf dan raja'. Yang berarti telah menempuh jalan lurus, dan 

menjauhi dua jalan yang menyesatkan, yakni merasa aman (tidak takut) dan 

berputus asa. Sehingga ia tidak tersesat. 

Syaikh Nauf al-Bakaly mengatakan, "Di kala aku ingat surga, aku merasa begitu 

rindu. Dan apabila ingat neraka, sama sekali aku tidak bisa memejamkan mata." 

Dengan demikian, berarti beliau termasuk ahli ibadah, manusia pilihan. 

Allah Ta'ala berfirman: 

Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami 

tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki 

keuntungan di dunia, Kami berikan padanya sebagian dari keuntungan

dunia, dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat. (asySyura : 20).

Alhamdulillah, berarti kita telah menempuh tahapan berbahaya ini dengan 

baik, dengan izin dan berkat karunia Allah. 

Berbagai kenikmatan dunia ini bagi kita, beragam simpanan yang mulia dan 

pahala yang agung akan kita peroleh kelak di akhirat. 

Semoga Allah melimpahkan taufik dan hidayah-Ny kepada kita. Dan semoga 

Allah menunjukkan jalan lurus bagi kita. Sesungguhnya Dia-lah Yang Paling Rahman 

dan Rahim.!!